31 Juli 2009

Dari Sumur Kami Sendiri

Oleh Frans Obon

DI MAUMERE para uskup Nusa Tenggara (Keuskupan Denpasar, Keuskupan Atambua, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Sumba, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Larantuka dan Keuskupan Agung Ende) membahas bersama para petani dan nelayan tentang kedaulatan pangan. Para petani dan nelayan menyeringkan pengalaman mereka mengenai kesulitan, kepahitan, keprihatinan, dan kegembiraan serta harapan mereka. Dari rekomendasi pertemuan kita tahu bahwa ada banyak kesulitan yang mengadang petani, tetapi juga ada harapan.

27 Juli 2009

Masyarakat Lokal

Oleh Frans Obon

BANYAK dari kita berharap berlebihan dari kunjungan Menteri Kehutanan MS Kaban ke Batu Gosok, Manggarai Barat. Karenanya kita tunggu-tunggu apa kata menteri. Ternyata di luar harapan banyak orang, dia bicara secara normatif saja. Dia bicara dalam bingkai tugas dan wewenangnya. Dia bilang bahwa Batu Gosok di luar kawasan konservasi TNK. Kalau ada di dalam kawasan hutan lindung, maka langsung dipidana.

20 Juli 2009

Efek Getar

Oleh Frans Obon

DI BAWAH rezim Orde Baru, semua serba tunggal. Semuanya diarahkan untuk menopang kepentingan kekuasaan Orde Baru. Partai politik dikendalikan dan disederhanakan. Organisasi massa diarahkan. Tidak terkecuali lembaga ekonomi. Kalau pemerintah bicara koperasi, itu sama artinya pemerintah sedang bicara koperasi unit desa (KUD) – yang diplesetkan jadi ketua untung duluan. Di luar itu, dipandang remeh. Itulah yang dialami oleh gerakan koperasi kredit (credit union) di masa lalu.

Kita di Flores terbilang sedikit beruntung. Mungkin karena jauh dari pusat kekuasaan di Jakarta dan oleh rasa hormat pemerintah daerah terhadap Gereja Katolik, tidak ada hambatan berarti mengenai perkembangan gerakan koperasi kredit. Dicurigai, ya. Tapi dihambat tampaknya tidak.

16 Juli 2009

Menonton Mabar

Oleh Frans Obon

KITA BISA berbeda dalam memandang Manggarai Barat belakangan ini. Masing-masing kita punya interprestasi. Sebagai sebuah daerah mekaran baru, yang usianya baru lima tahun, Manggarai Barat coba menemukan cara untuk membuat masyarakatnya sejahtera. Jika setahun pertama, penjabat bupati hanya melakukan pekerjaan administratif, maka lima tahun kemudian setelah bupati dan wakil bupati terpilih, perlahan-lahan kabupaten baru itu mulai menggeliat membangun dirinya.

Komunikasi Antaretnik Lewat Bolakaki

Oleh Frans Obon


PEKAN DEPAN terunamen tahunan bergensi di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan berlangsung di Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada, Flores. El Tari Memorial Cup adalah sebuah turnamen yang dirintis mantan Gubernur El Tari.

Pertandingan sepak bola tingkat provinsi ini pertama-tama dimaksudkan oleh Gubernur El Tari untuk menciptakan keseimbangan di dalam pembangunan. Bahwa dalam tubuh masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula.

Saatnya Koperasi Jadi Andalan

Oleh Frans Obon


SELAMAT kepada Koperasi Kredit (Kopdit) Sangosay atas prestasi yang diraihnya. Koperasi yang beranggotakan sekitar 8.902 anggota ini dengan aset Rp70 miliar lebih dan simpanan non saham Rp59 miliar lebih memperoleh predikat koperasi kredit berprestasi tingkat nasional. Anggota Kopdit ini ada di Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo dan sebagian di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Bersamaan dengan itu Bupati Ngada Piet Jos Nuwa Wea dinobatkan sebagai tokoh koperasi.

Budaya Bukan Sebatas Seremoni

Oleh Frans Obon

ORANG MULAI bertanya apakah ada agenda tersembunyi di balik peresmian kantor Bupati Manggarai yang dilakukan selama dua pekan? Karena pada kesempatan ini Bupati Christian Rotok dan Wakil Bupati Kamelus Deno mengundang tokoh-tokoh dari kecamatan-kecamatan menghadiri acara tersebut. Karena kemungkinan besar pasangan Christian Rotok-Kamelus Deno akan melanjutkan duet mereka untuk jilid II, maka orang menduga Bupati dan Wakil Bupati menggunakan kesempatan ini untuk kepentingan suksesi 2010. Namun Bupati Rotok menyangkal dugaan ini pada konferensi persnya.

Jangan Main-Main dengan Proyek Irigasi

Oleh Frans Obon


KALANGAN DPRD Ngada mempersoalkan proyek irigasi pedesaan di Boti, Kelurahan Mataloko Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Proyek bernilai dua ratusan juta lebih itu terkesan tidak tuntas dan tidak bermutu karena dikerjakan asal jadi. Meski begitu pemerintah sudah mengajukan ke DPRD tambahan dana lima puluh juta. Dinas Pekerjaan Umum sebagai pemilik proyek mengatakan, penambahan tersebut diajukan karena ada permintaan dari masyarakat.

Kutuk Kekerasan di Mabar

Oleh Frans Obon


RUMAH KEDIAMAN Sekretaris Gerakan Masyarakat Anti Tambang (Geram) didatangi orang-orang tak dikenal. Kornelis Rahalaka, Sekretaris Geram tidak berada di rumah. Yang ada hanya istrinya Yuliana Tati Hartati. Kejadian itu berlangsung pada tengah malam. Kasus ini telah ditangani pihak kepolisian.

Aksi premanisme di Manggarai Barat sudah sering kita dengar. Ada orang-orang tertentu dengan maksud membela kepentingan atau kebijakan-kebijakan publik tertentu melakukan aksi-aksi premanisme. Mereka mengancam orang yang mengkritik kebijakan atau menolak kebijakan tertentu.

06 Juli 2009

Dari Tanah Flores

Oleh Frans Obon

FLORES boleh berbangga. Dari sekian tempat pembuangan Presiden Soekarno, Flores punya tempat yang sentral. Bukan soal lama atau tidaknya dia ada di suatu tempat tetapi soal yang lebih strategis. Di tempat kita, di tanah kita, dia mengaku telah menemukan Pancasila. Di tepi laut, di bawah pohon sukun.

Interaksi Soekarno selama empat tahun di Flores (1934-1938) dengan misionaris dari Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD), dengan masyarakat Ende dan sekitarnya, dengan memandang laut dan gunungnya, flora dan faunanya, telah memberi dia sebuah insight bagi fondasi masa depan Indonesia modern. Keterlibatan Soekarno dalam pergerakan politik Indonesia, perjumpaannya dengan ideologi besar dunia dan kegandrungannya pada pustaka filsafat dan politik, telah membawa dia pada sebuah puncak untuk menemukan dasar yang kuat bagi Indonesia modern. Dan itu di Flores.

Jangan Biarkan Perempuan Terpuruk

Oleh Frans Obon


TELEVISI dan media menyajikan kepada kita situasi buruk yang menimpa perempuan migran kita. Mereka diseterika, dipukul, disiksa dan disekap. Kita menyebut para pekerja migran kita sebagai pahlawan devisa. Tetapi kita selalu menjadi pahlawan kesiangan karena sering telat melakukan aksi nyata menolong perempuan tak berdaya ini. Yang paling segar dalam ingatan kita adalah penderitaan Modesta Rengga Kaka (26), yang disiksa majikannya. Kita rasa ngeri menyaksikan nasib tragis yang menimpa perempuan asal Sumba Barat ini.

05 Juli 2009

Bertumpu pada SKPD

Oleh Frans Obon


SELAMA DUA hari, Jumat dan Sabtu (3-4/7) berbagai pemangku kepentingan menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) Kabupaten Ende. Pertemuan ini membahas rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Dokumen RPJMD adalah sebuah tonggak dan pedoman kerja pemerintah selama lima tahun ke depan. Seluruh arah dan strategi kebijakan pemerintah dalam tempo lima tahun berpedoman pada RPJMD.

Sumpah Adat

Frans Obon


KOMUNITAS adat Lewo Pulo Tana Lema di Solor Barat, Flores Timur menggelar sumpah adat. Memeteraikan sumpah adat ini, mereka sembeli seekor babi. Kegiatan ini diprakarsai oleh pemerintah kecamatan. Tujuannya adalah mencegah pembakaran padang di pulau tersebut yang terjadi setiap tahun. Dalam kasus pembakaran hutan ini, petugas seringkali kesulitan karena mereka tidak tahu pelakunya. Karena itu dibuatlah sumpah adat agar masing-masing orang waspada tidak membakar hutan baik dengan cara sengaja maupun tidak sengaja.

Pemda Terkesan Tak Serius

Oleh Frans Obon


MASYARAKAT Lembata mengeluh soal pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lembata. Keluhan mereka disampaikan oleh Komisi C DPRD Lembata dalam pandangan umumnya. Intinya rumah sakit milik pemerintah itu tidak maksimal melayani masyarakat. Obat selalu kurang. Masyarakat disuruh membeli obat di apotik-apotik. Cara seperti ini dilihat oleh masyarakat sebagai bentuk ketidakberesan pelayanan rumah sakit.

01 Juli 2009

Pejabat Siap Dikritik

Oleh Frans Obon

HAMPIR 30 tahun di bawah Orde Baru, pemerintah kita menghidupi sebuah budaya antikritik. Kritikan tidak dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi sebaliknya dianggap sebagai fitnah. Sehingga banyak pengkritik utama dalam sejarah Orde Baru dibatasi hak-hak politiknya, dicekal, dan dituduh anti-Pancasila bahkan didakwa dengan pasal pencemaran nama baik. Sisa dari budaya itu masih terlihat di dalam wacana politik Indonesia. Kita mengadopsi cara-cara kampanye Amerika, tetapi kita mentabukan kritik dan mencapnya sebagai fitnahan.