Loading...

15 Oktober 2009

Iman yang Dewasa

Oleh Frans Obon

Di halaman tengah Gereja Paroki Onekore, Keuskupan Agung Ende, Flores, terpampang tema perayaan 50 tahun paroki tersebut” Iman yang Dewasa”, yang difokuskan pada model iman yang membebaskan dan memberdayakan. Senin 21 September lalu, Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota memimpin perayaan ekaristi pesta emas tersebut.

Umat menyanyi, menari, dan makan bersama di halaman gereja setelah perayaan. Tiap lingkungan menyiapkan sendiri makanannya. Hal ini sesuai dengan rencana awal dan kebijakan Keuskupan Agung Ende untuk menyederhanakan pesta-pesta di Flores. Dalam pertemuan pastoral di Mataloko, Kabupaten Ngada dua tahun lalu diputuskan bahwa pesta-pesta yang berkaitan dengan kehidupan Gereja disederhanakan. Hal yang sama diharapkan berlaku untuk pesta-pesta budaya dan berbagai pesta lainnya dalam kehidupan masyarakat Flores, yang biasanya memakan banyak ongkos.

Tema iman yang dewasa, iman yang membebaskan dan memberdayakan memang telah lama menjadi komitmen Gereja Katolik Flores. Seingat saya Uskup Sensi pernah menekankan perlunya kedewasaan dalam kehidupan menggereja di Flores pada saat pencanangan musyawarah pastoral di Katedral Ende beberapa waktu lalu. Kedewasaan iman bisa saja ditafsir dari berbagai sudut pandang. Namun bila ditarik benang merahnya dengan pernyataan Uskup Sensi bahwa “iman tanpa perbuatan adalah bohong belaka” yang disampaikannya pada pesta 50 tahun Gereja Onekore, maka sesungguhnya pernyataan itu menunjukkan perlunya umat Katolik secara serius mewujudkan nilai-nilai injili di dalam praksis kehidupannya.

Strategi pastoral Keuskupan Agung Ende sebagaimana tertuang dalam agenda-agenda musyawarah pastoral menekankan praksis komunitas umat basis yang membebaskan dan memberdayakan. Komunitas basis dalam pengertian ini tidak saja menjadi tempat memperlancar kegiatan liturgis gereja sehingga perayaan dirayakan sedemikian meriahnya, melainkan sebuah pendekatan pastoral yang terfokus pada gerakan-gerakan sosial yang membebaskan umat dari belenggu-belenggu. Strategi pastoral yang mengutamakan inisiatif dan prakarsa-prakarsa untuk secara bersama membangun sebuah kehidupan bersama yang lebib baik. Ada usaha untuk memperbarui kehidupan sosial baik secara ekonomis, budaya, maupun politis.

Dalam konteks seperti ini sangatlah ditekankan dibangunnya kebersamaan. Komunitas basis tidak hanya memberi tempat pada kesalehan pribadi melainkan kesalehan sosial. Iman yang peka terhadap kehidupan sekitarnya. Peka terhadap masalah-masalah sosial. Peka terhadap isu-isu politik. Peka terhadap masalah sosial. Kepekaan itu harus disertai dengan munculnya prakarsa dan komitmen untuk terlibat di dalamnya dan aktif mencari solusi. Iman yang peka adalah iman yang merasakan apa yang dirasakan oleh gereja (sentire cum ecclesiae), apa yang menjadi keprhatinan Gereja, dan apa yang menjadi kepentingan umum demi kebaikan manusia. Sebab bagaimanapun gloria Dei, vivens homo.

Karena itu kemeriahan ibadah seperti yang terjadi pada perayaan liturgis Gereja Katolik Flores harus pula dibarengi lahirnya komitmen sosial di dalam masyarakat. Perayaan ekaristi harus bisa membangkitkan semangat untuk semakin terlibat di dalam gerakan sosial untuk membarui masyarakat.

Sebab itu konsep komunitas umat basis sebagai lokus gerakan pembebasan menuntut adanya perubahan mendasar dalam pola kehidupan menggereja. Kesalehan pribadi harus disertai dengan kesalehan sosial. Kesalehan sosial tidak lain adalah sebuah tindakan nyata sebagaimana ditunjukkan orang Samaria di dalam Injil yang membantu sesamanya yang menderita. Kesalehan sosial dipupuk melalui komitmen dan keterlibatan dalam memecahkan masalah bersama agar kehidupan manusia makin sempurna.

Karena itu kemeriahan ibadah seperti yang terjadi pada perayaan liturgis Gereja Katolik Flores harus pula dibarengi lahirnya komitmen sosial di dalam masyarakat.


Keterlibatan sosial ini harus passing over dalam semangatnya. Semangat beralih dari sibuk dengan diri sendiri ke sibuk dengan urusan bersama. Sehingga iman tidak semata-mata soal urusan pribadi dengan Allah tetapi dilihat secara horisontal, dalam hubungannya dengan sesama. Semangat passing over inilah yang mengharuskan orang Katolik membuka tangan dan hatinya kepada semua orang dari berbagai agama, etnis, dan budaya. Gereja sendiri telah menjadi contoh bagaimana pluralisme di dalam suku dan budaya menjadi kekayaan yang luar biasa untuk saling memperkaya satu sama lain.

Pluralisme tidak saja dalam konteks asal, melainkan dalam konteks pandangan dan pilihan politik. Dari apa yang saya lihat di beberapa kesempatan pandangan dan pilihan politik telah memisahkan dan menghancurkan semangat solidaritas. Dalam hal-hal yang krusial, perhitungan kepentingan politik menyumbangkan bagian terbesar pada sikap meremehkan kepentingan umum.

Sebenarnya gagasan-gagasan kemandirian di dalam kehidupan Gereja telah lama menjadi pokok perhatian Gereja Katolik Flores. Seluruh reksa pastoral yang dirancang oleh misi Gereja Katolik baik dalam bidang ekonomi, budaya, dan politik diarahkan menuju kemandirian umat. Membangun Gereja Katolik yang mengakar dalam kehidupan umat. Secara teologis, inkarnasi adalah dimensi terdalam dari berakarnya iman dalam kehidupan umat. Mengakar tidak saja dalam hal secara numerik banyak yang menganut iman Katolik, melainkan bagaimana iman mengarahkan seluruh kehidupan.

Di tengah banyak keraguan, apakah sebuah daerah misi yang usianya masih muda bisa dihasilkan calon imam untuk memenuhi kebutuhan tenaga pastoral gereja, didirikanlah seminari pertama di Lela, Kabupaten Sikka, yang kemudian dipindahkan ke Mataloko. Seminari pertama didirikan setelah Serikat Sabda Allah hadir di Flores sepuluh tahun lebih. Apa yang kita saksikan sekarang yakni hampir tiga ratusan misionaris dari Flores dan Timor bekerja di berbagai negara. Fakta ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil atau tidak ada yang terlalu sulit untuk mewujudkan sebuah mimpi besar.

Ketika pemerintah mengambil kebijakan membatasi bantuan tenaga dan dana asing untuk pembangunan keagamaan di Indonesia, Gereja Katolik mengembangkan konsep gereja yang mandiri. Kemandirian gereja dalam beberapa hal seperti tenaga sebagiannya sudah dipenuhi. Yang masih sulit adalah kemandirian finansial. Gereja belum sepenuhnya bisa membiayai dirinya sendiri dengan dana dari umat. Meski kita dapat berharap bahwa hal ini pun akan terpenuhi sejalan dengan kemajuan ekonomi umat dan makin tertibnya pengeluaran ekonomi rumah tangga untuk hal-hal yang produktif.

Di beberapa tempat konsep kemandirian ini memang membawa efek yang positif bagi kehidupan gereja di mana umat Katolik merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan gereja. Gereja tidak lagi dimengerti sebagai urusan hirarki gereja melainkan seluruh umat adalah Gereja sesuai dengan konsep menggereja dari Konsili Vatikan kedua. Tapi haruslah diakui bahwa di beberapa tempat konsep kemandirian gereja dalam hal finansial telah membawa gereja pada relasi yang tidak independen pada kekuasaan politik. Bantuan-bantuan pemerintah kepada gereja sering menyulitkan posisi hirarki gereja dalam hal-hal krusial. Jika semua orang belajar dari pengalaman-pengalaman ini dan berusaha membangun sistem finansial yang teratur baik dalam menggalang dana maupun pengelolaannya yang transparan, maka perlahan-perlahan secara finansial paroki-paroki akan bisa lebih mandiri dan membiayai dirinya sendiri.

Iman yang dewasa tidak lain adalah iman yang berakar dalam kehidupan. Iman yang diinspirasi oleh nilai-nilai Injili. Benih-benih Injil telah ada sejak tahun 1516 di Flores yang dimulai oleh imam-imam Dominikan, dilanjutkan oleh Serikat Jesus, hingga penyerahan misi Flores dan Timor ke Serikat Sabda Allah tahun 1913/1914. Secara numerik telah terjadi peningkatan jumlah sehingga disebutkan bahwa Flores memang “naturaliter christiana”. Tetapi pertumbuhan ini tidak berjalan sebanding dengan pertumbuhan dimensi etis keagamaan dalam praksis hidup. Dari respon terhadap politik, korupsi, lingkungan hidup, pertambangan, dan pengorbanan pada kepentingan umum, kita tahu bahwa iman kita belum dewasa.

Melbourne Oktober 2009
Baca Selengkapnya...

18 September 2009

Bersama Lawan Kemiskinan

Oleh Frans Obon

KRISTEN dan Muslim: Bersama memerangi kemiskinan (Christians and Muslims: Together in overcoming poverty). Inilah ajakan yang diserukan Gereja Katolik kepada saudaranya yang Muslim pada akhir bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Pesan ini disampaikan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama-agama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue) yang ditandatangani Presiden dan Sekretatis Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama-agama, Kardinal Jean-Louis Tauran dan Uskup Agung Pier Luigi Celata.

Seruan seperti ini jarang dipublikasikan di media-media umum. Padahal tiap tahun Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama-agama selalu menyampaikan kepada saudara-saudaranya yang Muslim sebuah pesan dengan penuh rasa hormat, kegembiraan dan ajakan bergandengan tangan untuk bekerja sama dalam hal-hal yang menyangkut kemanusiaan. Karena tidak ada alasan yang lebih mendasar untuk menolak dan mengingkari tanggung jawab bersama umat beragama untuk memerangi segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat manusia. Karena Allah Mahacinta, Mahapengasih dan Mahapenyayang mencintai semua orang yang mencari Dia dalam kebenaran.

Pesan Ramadhan kali ini difokuskan pada masalah kemiskinan. Setelah menyampaikan ungkapan persahabatan yang mendalam dan kegembiraan hubungan antara kedua agama dan sikap semakin terbuka untuk berdialog, Dewan Kepausan mengajak untuk bergandengan tangan memerangi kemiskinan yang membelenggu manusia.

Dalam pandangan Gereja Katolik, kemiskinan adalah satu medan keprihatinan bersama tanpa sekat dan batas agama dan etnis. Kemiskinan tidak mengenal label agama dan etnis. Kemiskinan adalah masalah bersama, musuh bersama yang harus dilawan agar manusia terbebas dari hidup kemelaratan, hidup yang tidak manusiawi. Memerangi kemiskinan menjadi medan kerja sama yang tidak mengenal batas wilayah agama dan etnis.

Pesan ini mau mengajak umat Kristen dan Islam bergandengan tangan dan memberi perhatian pada masalah kemiskinan agar orang miskin mendapat tempat yang layak, terangkat harkat dan martabatnya dalam tatanan kehidupan masyarakat.

Mengapa kemiskinan? Karena kemiskinan adalah kekuatan yang bisa merendahkan martabat manusia, menyebabkan penderitaan yang tidak bisa ditolerir dan sering menjadi sumber keterasingan, kemarahan, bahkan kebencian dan sumber perlawanan. Kemiskinan dapat memproduksi tindakan permusuhan dengan mencari pembenaran di dalam pendasaran agama-agama, kemiskinan mengancam perdamaian dan keamanan.

Paus Benediktus XVI pada Hari Perdamaian Sedunia tahun 2009 nanti dalam pesannya sebagaimana juga disinggung dalam ensiklik Caritas in Veritate yakni Cinta Kasih dan Kebenaran menyebutkan ada dua bentuk kemiskinan: kemiskinan yang harus diperangi dan kemiskinan yang harus di-embrace. Kemiskinan yang harus diperangi adalah kelaparan, kekurangan air bersih, akses yang buruk dan terbatas pada pelayanan kesehatan dan perumahan yang tidak layak, pendidikan yang buruk dan sistem budaya, kebodohan, dan tidak lupa menyebutkan ”bentuk-bentuk kemiskinan baru” terutama dalam negara-negara maju seperti marjinalisasi, kemiskinan afektif, moral dan spiritual. Paus mengajak perlu dibangunnya prinsip persaudaraan universal dan tanggung jawab bersama.

“Orang miskin menantang kita dan di atas segalanya mengundang kita untuk bekerja bersama dalam hal ini: memerangi kemiskinan,” kata Dewan Kepausan mengakhiri pesannya.

Pesan ini relevan untuk kita di sini. Nusa Tenggara Timur termasuk dalam salah satu provinsi yang tingkat kemiskinannya masih tinggi. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan masih minim. Kita masih sering temukan kasus busung lapar, kurang gizi, tingkat pendidikan yang rendah, masalah lingkungan hidup, masalah etika (korupsi dan kolusi, misalnya). Di Flores dan Lembata juga bersama.

Banyak masalah yang bisa kita selesaikan bersama seandainya semua agama bersatu dan bergandengan tangan. Tidak ada alasan yang mendasar untuk mengingkari tanggung jawab bersama agama-agama untuk mengatasi masalah kemanusiaan. Malah keterlibatan agama-agama dalam memerangi masalah-masalah yang merendahkan martabat manusia merupakan satu keharusan. Karena agama pada hakikatnya menawarkan kebebasan lahir dari batin, mendorong tiap usaha untuk mensejahterakan masyarakat.

Sejarah dan politik sering mengaburkan komitmen agama-agama untuk memerangi masalah-masalah yang membelenggu kemanusiaan seperti kemiskinan. Kita seringkali tenggelam dalam sejarah masa lampau, sejarah yang merenggangkan hubungan antaragama-agama. Kita sering lupa memandang masa depan bersama dan mengusahakannya lebih baik. Kita terperangkap dengan sejarah masa lalu dan sering lupa belajar dari masa lalu untuk membangun kehidupan bersama yang lebib baik di masa depan.

Ini semua terjadi karena politik telah mempolitisasi agama. Agama dipakai hanya untuk melegitimasi kekuasaan dan jalan menuju kekuasaan. Agama yang terperangkap dalam politik mengakibatkan agama kehilangan roh pembebasannya. Agama tidak lagi berfungsi sebagai suara yang berseru-seru untuk selalu mengingatkan pemangku kekuasaan bahwa mereka harus selalu berada dalam semangat dan komitmen untuk memerangi kemiskinan.

Banyak sekali penelitian dibuat dan ditulis yang menunjukkan agama memiliki peran penting dalam mendorong perubahan sosial dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tetapi ketika agama terbelenggu oleh sejarah dan politik, agama menjadi salah satu alasan untuk menghindari kerja sama yang lebih erat untuk memerangi masalah kemanusiaan. Karena di sana akan ada kelompok kepentingan politik. Politik sering menciptakan jarak.

Banyak contoh di Flores dan Lembata di mana dalam masalah-masalah kemanusiaan, agama seringkali dipakai untuk membentengi kepentingan ekonomi-politik elite politik lokal kita. Dalam masalah tambang, misalnya, ada usaha dari elite ekonomi dan politik lokal dalam kerja sama mereka dengan pemodal untuk menciptakan kotak-kotak dengan label agama. Padahal agama sejatinya harus selalu memperjuangkan kepentingan orang-orang yang kalah dan menentang setiap usaha pembangunan yang merendahkan martabat manusia dan mengorbankan rakyat kecil-miskin yang tidak berdaya.

Kepentingan ekonomi-politik elite lokal makin memperlebar jarak dan merenggangkan hubungan antaragama-agama. Basis-basis politik dibangun dengan berbasis agama atas nama demi memperjuangkan kepentingan umat. Bukan kepentingan masyarakat luas. Dampak buruk dari ini adalah kita jarang temukan adanya inisiatif bersama agama-agama untuk memerangi kemiskinan. Pemimpin agama seringkali gagal mengajak umatnya bahwa agama bukanlah halangan bagi kerja sama untuk memerangi kemiskinan.

Dalam banyak hal energi sosial kita sering dihabiskan untuk mengurus pertikaian berbasis agama. Padahal agama hanya dipakai untuk melegitimasi kepentingan ekonomi-politik. Akarnya adalah kepentingan ekonomi dan politik. Karena itu kita membebaskan agama dari belenggu kepentingan ekonomi dan politik sekelompok elite tetapi mengembalikan perannya untuk membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang terpasang pada kuk kemanusiaan kita.

Flores dan Lembata adalah tempat kita bersama, rumah kita bersama, yang harus dijaga. Kalau demikian halnya, maka apapun masalah yang dihadapi masyarakat Flores dan Lembata adalah masalah kita bersama. Isu lingkungan hidup, isu pertanian, pengelolaan sumber daya alam, isu kemiskinan, isu politik dan budaya, atau isu apa saja haruslah dianggap keprihatinan kita bersama. Di situlah pentingnya masyarakat Flores dan Lembata membangun komitmen bersama untuk menjaga rumah yang disebut Flores dan Lembata itu.

Kemiskinan adalah salah satu masalah yang paling krusial di Flores dan Lembata. Maka sudah sepatutnya agama-agama di sini memperbanyak prakarsa untuk bersama-sama memerangi kemiskinan. Bahwa agama bukanlah halangan untuk kita bekerja sama. “Orang miskin menantang kita dan di atas segalanya mengundang kita untuk bekerja bersama dalam hal ini: memerangi kemiskinan”. Semoga kata ini selalu menggema di sudut-sudut Flores dan Lembata. Bahwa kita diundang untuk bekerja sama memerangi kemiskinan.

Edisi, 19 September 2009
Baca Selengkapnya...

11 September 2009

Lokal

Oleh Frans Obon

DALAM rentang sejarah 10 tahun Flores Pos, ada satu masa di mana motonya diubah. Dari “Nusa Bunga untuk Nusantara” diubah menjadi “Membangun Manusia Pembangun”. Moto “Membangun Manusia Pembangunan” adalah moto Surat Kabar Mingguan Dian, yang untuk sementara telah dibekukan oleh pemiliknya. Entah apa yang melatari perubahan itu tidak terlalu jelas bagi kita. Episode tersebut barangkali sesuatu yang sepele, tetapi dalam beberapa hal dia berbicara banyak mengenai dinamika internal pers. Ini barangkali sebuah Wars Within meminjam judul buku Janet E Steele yang menulis mengenai konflik internal Majalah Tempo. Buku ini ditulis dengan cara yang memikat menggunakan narrative reporting atau yang oleh beberapa kalangan disebut jurnalisme sastrawi.


Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Frans Anggal, Johanes Don Bosco Do dan Rony So


Moto ini dalam satu hal menjelaskan mengenai yang lokal itu. Bahwa yang lokal dapat menyumbangkan sesuatu bagi yang global. Dalam teori globalisasi, ketegangan terjadi antara negara bangsa (nation-state) dengan situasi global, tetapi sesungguhnya ketegangan juga terjadi di dalam negara-bangsa itu sendiri. Seperti halnya juga di dalam Gereja Katolik terdapat ketegangan antara universalisme gereja dan partikularisme. Hubungan dialektis antara yang universal dan yang partikularis itu di satu sisi menimbulkan ketegangan hubungan tetapi di sisi lain memperkaya kehidupan gereja. Dalam konteks yang sama, yang lokal di dalam negara bangsa dapat memberikan kontribusi bagi kekayaan kehidupan bersama. Tetapi bagaimana yang lokal memberikan kekayaan kepada yang umum atau yang universal jika yang lokal tidak diperkaya, tidak ditapis dengan jernih untuk menemukan yang bernas dan berisi, sehingga pada gilirannya dijadikan sebuah kontribusi yang bermakna.

Dengan keyakinan inilah, Harian Umum Flores Pos ingin memberikan makna pada yang lokal itu. Dalam usia 5 tahun, Harian Umum Flores Pos menggelar seminar dengan tema ”Membangun Ekonomi Flores: Masalah dan Solusinya”. Inti dari seminar itu adalah bagaimana membangun ekonomi lokal di Flores dan Lembata, sehingga terjadi penguatan basis ekonomi di kawasan ini. Pembicaraan di ruang seminar ini tentu dimaksudkan untuk sumbang gagas bagaimana intelektual-intelektual Flores berbicara dan mendiskusikan kehidupan mereka dan menemukan jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi. Saat itu Yoseph Tote (sekarang Bupati Manggarai Timur) bicara soal pengembangan sumber daya manusia, Manajer Cabang PT PLN Flores Bagian Barat Albert Prajartoro bicara soal bagaimana sumber daya listrik mampu mendorong percepatan pembangunan di Flores, Cyrillus Kerong (Redaktur senior Bisnis Indonesia) bicara kehadiran investor dalam membangun ekonomi Flores, Kepala Bappeda Ende Anton Se (mewakili Bupati Ende Paulinus Domi), dan Pastor Paul Budi Kleden SVD yang berbicara mengenai ekonomi kerakyatan. Pater Budi bicara soal politik ekonomi yang memihak rakyat.

Pada usianya ke-10 Harian Umum Flores Pos kembali membahas ekonomi. Kali ini media milik Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini) ini bicara soal pangan lokal. Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Dokter Johanes Don Bosco Do, Pemimpin Redaksi Flores Pos Frans Anggal dan Rony So dari FIRD. Formatnya tidak dalam bentuk seminar atau diskusi, melainkan talk show. Suasananya lebih cair dan santai. Santai dalam cara tapi serius dalam isi. Titik penting di sini adalah bagaimana rakyat Flores dan Lembata tidak jatuh dalam kemiskinan, tidak jatuh dalam kelaparan, tidak jatuh dalam situasi busung lapar, melalui cara memaksimalkan potensi lokal, menggunakan apa yang mereka miliki, dan yang penting adalah makan dari apa yang dihasilkan dari tanah mereka sendiri.

Jika demikian penting isu pangan lokal ini, maka ada tiga unsur penting di dalamnya yang harus dipertahankan yakni tanah, air dan hutan. Penting sekali agar para petani kita memiliki lahan tempat mereka mencangkul, menanam, dan memanen. Para petani mesti memiliki akses pada ketersediaan air yang mengalir dari hutan-hutan kita. Konsekuensinya adalah kebijakan pemerintah yang lebih tegas untuk mempertahankan hutan dan ketersediaan air dan mendorong partisipasi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan. Adalah sesuatu yang ironis jika di satu sisi kita bicara pentingnya pangan lokal tetapi di sisi lain kita tidak memberi perhatian pada masalah tanah, air dan hutan.

Karena itu setiap usaha yang mau menghilangkan atau mencabut petani dari lahan pertanian mereka, sudah seharusnya dicegah. Jika kita melihat komposisi penduduk kita dan kontribusi pada pendapatan domestik regional bruto (PDRB) sektor pertanian masih mendominasi. Itu saja sudah menggambarkan bahwa sebagian besar penduduk kita bergerak di sektor pertanian. Karenanya kehilangan lahan pertanian sama dengan menciptakan kemiskinan dan mencabut mereka dari tanah kelahirannya.

Pangan lokal tentu saja bukan semata-mata menghidupkan lagi nostalgia masa lalu akan kekayaan dan keberagaman makanan kita, atau bukan soal ketersediaan pangan yang cukup tetapi terutama bagaimana para petani ikut menentukan apa yang mesti ditanam, yang mesti mereka petik dari kebun-kebun mereka, dan mereka mendapatkan keadilan dari perdagangan komoditas pertanian. Kedaulatan pangan mungkin kata yang tepat di sini. Pangan lokal harus sejalan dengan konsep kedaulatan pangan. Di sini tentu saja tidak hanya soal produksi, tetapi para petani memiliki akses yang luas pada pangan. Akses pangan terjadi dalam kondisi pasar yang adil dan seimbang.

Pangan lokal dan kedaulatan pangan pada gilirannya akan membantu menyelesaikan ketegangan antara apa yang global dan apa yang lokal. Di sini yang lokal akan menjadi yang global. Siapa bisa menyangka bahwa jambu mete Flores, yang bebas dari pemakaian pupuk, bisa dihidangkan di restoran di Paris, di London dan di Amerika. Jambut mete dari Aimere (Ngada) dan dari Tanjung Bunga (Flores Timur) dieskpor ke Eropa dan Amerika. Jambu mete Flores ini tembus pasar Eropa dan Amerika karena bebas dari pemakaian pupuk kimia. Mungkin kita bisa bermimpi bahwa suatu saat ubi nua bosi bisa diekspor asalkan disentuh dengan teknologi yang diterima pasar.

Penghargaan kita pada pangan lokal tentu saja pada satu sisi akan melahirkan dan memunculkan cita rasa kuliner yang khas dari Flores dan Lembata. Dengan ini akan lahir pula kecerdasan kuliner Flores dan Lembata. Konsep pangan lokal dengan sentuhan kecerdasan kuliner Flores dan Lembata ini akan sejalan dengan keinginan pemerintah dan orang-orang Flores untuk mengembangkan potensi pariwisatanya. Dengan demikian kita tidak saja berpikir tentang ekspor ke mancanegara, melainkan orang datang untuk menikmati cita rasa kuliner Flores dan Lembata.

Perubahan cara pandang terjadi hanya dimungkinkan oleh perubahan mindset kita dalam memandang yang lokal. Lokal dalam banyak kesempatan sering dianggap kekalahan. Pangan lokal juga demikian. Makanan-makanan lokal seringkali bertekuk lutut di hadapan kampanye kehidupan global yang diuar-uarkan oleh iklan-iklan.

Harian Flores Pos oleh motonya dari “Nusa Bunga untuk Nusantara” dituntut untuk menghargai yang lokal dan mendorong ekonomi lokal ke arah kemandirian dan kedaulatan. Oleh tuntutan ini pula, media di Flores dan Lembata mesti memainkan peran untuk berada di sisi para petani yang menjadi mayoritas dari penduduknya. Media banyak kali dikritik karena tidak cukup menyediakan tempat bagi isu-isu kemiskinan dan ekonomi lokal. Jarang sekali suara-suara orang miskin muncul di media.

Yang mesti dilakukan media adalah memberi tempat bagi orang-orang miskin di dalamnya, memberi tempat bagi para petani-petani miskin di pedesaan sehingga media memainkan peran mediasi dan menjadi penyambung suara orang-orang miskin (the voice of the poorest atau the voice of the voiceless). Pada gilirannya media membantu publik memberikan sokongan bagi pengentasan kemiskinan dan mendorong kemandirian ekonomi lokal dan membantu para pengambil kebijakan untuk memberikan solusi.

Memperkuat lokal berarti memperkuat masyarakat akar rumput. Pers oleh tugas dan tanggung jawabnya mesti memperkuat masyarakat akar rumput, mendorong kemandirian mereka, dan membangkitkan rasa harga diri.

Edisi, 12 September 2009

Baca Selengkapnya...

06 September 2009

Dari Nusa Bunga

Oleh Frans Obon

TIDAK terasa Harian Flores Pos, harian pertama di Flores, telah berusia sepuluh tahun pada tahun 2009 ini. Tentu tidak untuk menepuk dada bahwa dalam usia tersebut, Harian Flores Pos sudah memberikan kontribusi bagi perjalanan masyarakat Flores dalam mengasah nalar, dalam mendapatkan hiburan yang sehat dan menjadi medium pendidikan berdemokrasi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Banyak isu-isu lokal yang penting yang diangkat Harian Flores Pos dan bahkan kemudian isu-isu tersebut menjadi isu nasional.

Ambillah contoh. Jajak pendapat di Timor Timur yang dimenangkan kelompok pro-kemerdekaan memberikan kita satu residu dari masalah tersebut: selain masalah pengungsi, tetapi juga pemindahan Korem dari Dili ke Flores. Harian Flores Pos, bayi yang baru lahir kala itu – Flores Pos lahir 9 September 1999 -- harus berhadapan dengan kegelisahan masyarakat Flores mengenai pemindahan Korem. Dia memilih menjadi penyambung lidah yang kelut dari masyarakat Flores. Diskusi pemindahan Korem telah menjadi diskusi hangat pada masa-masa itu. Diskusi kemudian sampai pada satu titik tertentu pada masa itu: perlukah fungsi teritorial dari TNI dipertahankan? Diskusi ini hangat dibicarakan di tingkat nasional pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid.

Isu lain yang menjadi penting bagi bayi Flores Pos pada masa itu adalah masalah rabies. Rabies yang tidak pernah tuntas sampai sekarang merupakan hal baru bagi masyarakat Flores. Kematian yang beruntun di beberapa wilayah terutama Ngada dan Ende dan sekarang merata di seluruh Flores telah menggoncangkan sendi-sendi sosial dan budaya. Dari sesuatu akrab menjadi sesuatu yang menakutkan. Anjing adalah binatang peliharaan yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Flores tetapi tiba-tiba menjadi sesuatu yang menakutkan bagi kehidupan mereka. Anjing menjadi binatang yang mesti diwaspadai dan dijauhi. Flores Pos terus menerus mengingatkan pemerintah dan semua orang agar penanganan rabies perlu diprioritaskan baik dalam kebijakan maupun dalam alokasi dana. Flores Pos menentang rencana studi banding DPRD ketika masyarakatnya berhadapan dengan masalah rabies.

Pemekaran wilayah adalah juga menjadi isu penting. Harian Flores Pos mendorong pemekaran wilayah terutama kabupaten. Ini menjadi salah satu agenda penting. Obsesi kita pada waktu itu adalah mendorong proses demokratisasi di tingkat lokal. Pemerintahan yang demokratis, yang dicita-citakan oleh reformasi mesti bertumbuh dan berkembang di tingkat akar rumput. Perubahan operasi administrasi birokrasi pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi adalah jalan menuju pertumbuhan dan perkembangan demokrasi di tingkat lokal. Meski kita sekarang ini harus menerima kenyataan bahwa daerah-daerah pemekaran baru dibajak oleh elite lokal sendiri untuk kepentingan mereka.

Tambang adalah juga masalah yang mendapat perhatian serius koran ini. Harian ini menangkap dengan jelas dan serius kegelisahan petani-petani Flores dan Lembata yang takut kehilangan lahan pertanian karena eksplorasi dan eksploitasi tambang. Pengambil kebijakan di daerah ini dengan tujuan mensejahterakan rakyat menggandeng investor tambang, tetapi kebijakan ini justru menimbulkan kegelisahan di kalangan para petani terutama mengenai lahan pertanian mereka. Para petani takut janji-janji kesejahteraan dari investasi tambang itu tidak terpenuhi, malah berakibat fatal bagi kehidupan mereka karena mereka akan kehilangan lahan pertanian. Mungkin akan kehilangan segalanya karena pemulihan tanah akibat pertambangan adalah sesuatu yang makan waktu dan mungkin juga sesuatu yang mustahil akan terjadi.

Banyak kegelisahan masyarakat Flores dituangkan secara jernih – mungkin kadang-kadang keras dan tidak melingkar-lingkar atau merangkak seperti kepiting. Bolehlah dibilang Harian Flores Pos mengekspresikan cara orang Flores dan Lembata menyampaikan pendapatnya: lugas, tegas, dan to the point. Tentu ini kadang-kadang menyakitkan. Mungkin karena di zaman serba bisa dibeli ini kebenaran sulit didapatkan dan kebenaran mesti diperjuangkan.

Kita tidak bisa mengingkari bahwa Flores Pos bisa seperti pedang. Ada yang tertusuk, ada yang terluka, dan ada yang terhibur. Tetapi media ini dibangun tidak untuk tujuan itu. Tujuan utamanya adalah agar kehidupan masyarakat Flores dan Lembata semakin berkualitas, semakin baik, dan semakin menampakkan wajah kemanusiaan. Wajah masyarakat Flores yang egaliter, toleran, demokratis, berbudaya, dan menghargai dan mempertahankan nilai-nilai kultur mereka yang baik. Media hanya membantu agar masyarakat Flores mendapatkan bahan pertimbangan yang lebih baik dalam mengambil keputusannya. Media hanya membantu masyarakat mendapatkan informasi yang bermutu, mengetahui duduk soal suatu masalah, dan memberikan berbagai perspektif dalam melihat masalah. Pada akhirnya masyarakat sendirilah yang menentukan, yang mengambil keputusan apa yang terbaik bagi kehidupan mereka bersama sebagai masyarakat, bangsa dan negara.

Semua cita-cita mulia ini dilalui dalam berbagai cara dan situasi. Ibarat seorang penabur yang menaburkan benih: ada benih yang jatuh di atas tanah yang subur, ada benih yang jatuh di pinggir jalan, ada yang jatuh di atas batu, ada yang jatuh di jalan sehingga mati terinjak orang. Ada benih yang tumbuh subur tetapi ada pula yang tumbuh di antara ilalang. Media menjembatani dan membawa kegelisahan dan kemarahan ke tengah publik. Di wilayah publik itulah masyarakat mendiskusikannya dan menanggapinya. Persepsi bisa berbeda. Tetapi justru karena itulah ada kekayaan dalam memandang satu masalah. Di situlah tumbuh demokrasi, tempat di mana perbedaan pandangan dan ideologi bertaut satu sama lain dan diterima sebagai sesuatu yang wajar dan lumrah. Di situ kehidupan menjadi lebih kaya dan berwarna. Tetapi kalau di wilayah publik hanya ada tafsiran tunggal maka otoritarianisme bertumbuh dan berkembang di sana. Kehidupan akan berubah menjadi kerdil. Kualitas kehidupan pun akan menurun.

Jika kita menelusuri sejarah pers di Flores dan Lembata -- mungkin umumnya di Nusa Tenggara Timur – maka akan segera tampak bagi kita bahwa sejarah pers di wilayah ini adalah sejarah jatuh bangun. Satu tumbuh hilang berganti. Pemiliknya bukan berasal dari kelompok raksasa industri pers, melainkan lahir dari serba-keterbatasan dalam hal modal, sumber daya manusia, dan fasilitas. Pers di Flores lahir dari visi dan misi untuk mencerdaskan masyarakat Flores meski tumbuh di dalam situasi serba terbatas.

Seperti di dalam sejarahnya, pers dan dunia perbukuan tumbuh berkat kemajuan di bidang mesin cetak. Mesin cetak memunculkan revolusi di dalam industri komunikasi dan meretas jalan baru bagi konstruksi hubungan sosial di dalam masyarakat. Pertumbuhan pers di Flores-Lembata juga tidak terlepas dari kehadiran mesin cetak. Percetakan Arnoldus Nusa Indah hadir pertama kali tahun 1925. Sejak itu sampai sekarang mesin percetakan Arnoldus Nusa Indah tidak pernah berhenti mencetak bahan-bahan bacaan bermutu bagi masyarakat Flores khususnya – dalam sejarahnya hasil cetakan Percetakan Arnoldus menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Majalah bulanan Bintang Timoer yang sebelumnya dicetak di Yogyakarta pada tahun 1928 mulai dicetak di Percetakan Arnoldus. Berturut-turut Bentara dan Anak Bentara. Majalah Dian dan sekarang Flores Pos.

Sejarah pers di Flores dan Lembata (juga NTT) akhirnya memberikan kita gambaran utuh bahwa ada usaha tanpa henti untuk mencerdaskan masyarakat Flores dan Lembata khususnya dan NTT umumnya. Ada usaha serius bahwa diperlukan alat yang kita sebut media untuk mengontrol penggunaan kekuasaan publik agar dia diabdikan sepenuhnya bagi kesejahteraan umum. Ada alat kontrol agar hukum tidak diselewengkan karena kalau diselewengkan akan melahirkan ketidakadilan. Ada alat kontrol agar masyarakat tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah mereka tetapi menggunakan cara-cara demokratis. Ada alat kontrol agar kehidupan bersama menjadi lebih demokratis dan lebih bermutu. Ada alat kontrol agar masyarakat bisa tahu bahwa pluralisme adalah sesuatu yang lumrah. Kontrol ini akan berjalan timbal balik yakni masyarakat juga mengontrol media agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya.

Dari Nusa Bunga untuk Nusantara adalah ikhtiar bahwa Flores Pos ikut ambil bagian dalam membangun karakter bangsa Indonesia (nation building) yang demokratis. Orang Flores akan terus berjuang tanpa henti untuk terus ambil bagian dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Meskipun jalan ke arah itu tidak selalu mudah.


Flores Pos, edisi 5 September 2009

Baca Selengkapnya...