30 Juni 2009

Fenomena Tonggurambang

Oleh Frans Obon

KOMISI A DPRD Nagekeo mengecam pemerintah dalam kasus tanah Tonggurambang. Menurut anggota DPRD, pemerintah tidak melakukan sosialisasi kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak mengetahui bahwa lokasi tersebut sudah diberikan kepada institusi TNI sebagai hak pakai. Sementara pihak pemerintah mengatakan, lokasi itu diberikan kepada purnawirawan Angkatan Darat agar mereka bisa seperti warga lainnya mengolah lahan tersebut. Bukan menelantarkannya. Mengatasi masalah ini sekarang, pemerintah dan Komisi A DPRD membentuk sebuah tim identifikasi masalah yang sebenarnya.

Jangan Lagi Korbankan Petani

Oleh Frans Obon

SALAH SATU sisi yang mencuat dalam masalah tambang adalah pengklaiman hak atas tanah. Pemerintah termasuk jago memberi label baik melalui pernyataan politik mereka maupun melalui regulasi yang mereka tetapkan. Lahan-lahan yang belum digarap secara retoris sering disebut lahan tidur dan lahan kosong. Pada waktunya lahan kosong ini dianggap sebagai tanah tak bertuan, bukan milik masyarakat lokal, melainkan milik negara. Lalu, merasa sebagai representasi negara pemerintah boleh menggunakan dan memberikannya kepada siapa saja atas nama kepentingan negara dan atas nama kepentingan rakyat. Tapi dia tidak sadar bahwa negara berkewajiban melindungi hak warga negaranya termasuk dari perampasan hak masyarakat oleh negara.

26 Juni 2009

Tambang

Oleh Frans Obon

BEBERAPA tahun belakangan ini, orang-orang Flores dan Lembata berteriak: tolak investasi tambang di Flores-Lembata. Investasi tambang akan merugikan petani. Tambang tidak memberi nilai tambah pada petani. Tambang merusak lingkungan dan menghancurkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) seperti dicanangkan pemerintah. Tanah adalah aset petani. Kerusakan yang diakibatkan tambang tidak akan dengan mudah dipulihkan. Mereka melihat tambang di Sumbawa, mereka saksikan di Buyat dan mereka tercengang melihat Papua.

22 Juni 2009

Madah Seorang Peziarah

Oleh FRANS OBON

“Mai mera leka sao NGGA’E” (Mari kita ke rumah Tuhan). Tulisan sepotong ini ditempelkan pada pintu masuk sebelah kiri gereja Paroki Wolotopo, Kamis pekan lalu. Dua pintu masuk dihiasi dengan kertas perak berwarna-warni. Sementara di sebelah kiri altar di belakang patung Bunda Maria, pada sebuah kain berwarna biru yang di atasnya lagi ditaruh kain adat Lio ditulis angka 25 tahun.

Angka itu menunjukkan usia 25 tahun imamat Romo Herman Embuiru Wetu Pr. Imam sulung dari paroki tersebut ditahbiskan 11 Juni 1984 di Katedral Ende oleh Uskup (emeritus) Keuskupan Agung Ende, Mgr Donatus Djagom SVD. Saat itu usia tahbisan uskup Donatus Djagom 15 tahun. Tanggal 11 Juni 2009, tepat pada perayaan tersebut usia tahbisan uskup Djagom sudah 40 tahun.

Semangat yang Terlupakan

Frans Obon

PARA PESERTA pertemuan Musyawarah Pendidikan (Musdikat) bertepuk tangan saat Ketua Yayasan Tananua Hironimus Pala menyajikan dampak positif dari arisan pendidikan yang mereka rintis dan bangun di Wolomuku, Kabupaten Ende. Daerah itu terisolasi karena buruknya transportasi, meski potensi ekonominya cukup terutama tanaman komoditas perdagangan. Meski demikian mentalitas masyarakat telah mempengaruhi cara hidup mereka. Sikap fatalistis. Dia sendiri mengaku bahwa awalnya merintis arisan pendidikan seperti ini bukanlah hal mudah. Apalagi dia bersama para pemrakarsa lainnya menghadapi kultur masyarakat doi bhondo ngama bhanda.

14 Juni 2009

Ekaristi dan Komunitas

Oleh Frans Obon

Judul ini saya ambil dari tema pertemuan 80 teolog, misionaris, dan aktivis awam dari 11 negara Asia. Tema lengkapnya “ Ekaristi dan Komunitas – Melampau Semua Penghalang (Eucharist and Community – Beyond and All Barriers). Pertemuan ini digelar tanggal 18-20 Mei di Pusat Retret St Benediktus di Seoul, Korea Selatan dan diselenggarakan oleh Gerakan Katolik Internasional untuk Urusan Intelektual dan Kultural (International Catholic Movement for Intellectual and Cultural Affairs/ICMICA) dan Institut Teologi Woori (Woori Theology Institute/WTI) yang berbasis di Seoul.

Kembali ke Kampung





Oleh Frans Obon


JALAN membelah bukit batu. Menanjak, lalu menurun. Sebuah jembatan gantung melewati sungai menuju kampung ditinggalkan. Sesekali orang lewat. Jembatan ini telah diganti dengan jembatan berkonstruksi semen dan beton. Jembatan konstruksi beton dan semen itu seakan sebuah bentuk kemerdekaan untuk kampung yang produktif menghasilkan bengkuang itu . “Hanya Romo (Pastor Paroki) yang sering lewat di atas jembatan gantung itu sekarang,” kata seorang tukang ojek. Karena ujung jembatan gantung itu langsung di depan gerbang paroki.

07 Juni 2009

Pangan

Oleh Frans Obon

Tiga bupati dari Flores diundang oleh Harm Foundation untuk menengok dari dekat pendekatan yang digunakan pemerintah Jerman dalam mengembangkan pertanian dan pedesaan. Bupati Manggarai Christian Rotok, Bupati Ende Don Bosco M Wangge dan Bupati Manggarai Barat Wilfridus Fidelis Pranda akan sejenak berada di Jerman.
Sistem pertanian dan penataan pedesaan barangkali dua hal penting yang bisa dipelajari dalam kunjungan ini. Karena justru dua hal ini amat krusial bagi pengembangan pertanian dan penataan pedesaan kita saat ini.

04 Juni 2009

Agar Mereka Bicara

Koperasi memberi akses modal usaha bagi sebuah kelompok penjahit perempuan.

Oleh FRANS OBON


MATA Nyonya Tien Wignyanta berkaca-kaca. Santy Wignyanta berdiri di samping kanannya. Sedang di sisi kiri berdiri Mikhael H Jawa, Manajer Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Bekatigade Ende, Ngada, dan Nagekeo. Berdiri setengah lingkaran Ketua Koperasi Kredit Bahtera Andreas Reku dan Manajer Koperasi Kredit Bahtera Ignas Tegu. Nyonya Tien terus berbicara menjelaskan awal usaha kelompok jahit Santy, yang mempekerjakan 16 orang perempuan.


Ranjith Hettiarachchi, Chief of Executive Officer dari Asosiasi Konfederasi Koperasi Kredit Asia (Association of Asian Confederation of Credit Unions/ACCU) Bangkok terus merekam gambar dengan handycam. Mikhael Jawa menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.