05 November 2014

Reksa Pastoral Kaum Muda

Oleh Frans Obon
GEREJA  Katolik Keuskupan Ruteng melanjutkan sidang sinode yang dihadiri oleh berbagai kalangan dan utusan umat serta komisi-komisi keuskupan. Sinode III Sesi III ini melanjutkan dua sesi sebelumnya dengan masalah yang berbeda. Pada sesi III ini peserta akan membahas tema “Keluarga, Anak-Anak dan Kaum  Muda”. Menurut Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng Romo Martin Chen Pr, Keuskupan ingin mendapatkan potret masalah dominan dan refleksi teologis pastoral mengenai keluarga, anak-anak dan kaum muda. Diharapkan, pertemuan empat hari ini, “kembali melahirkan wajah humanisasi pastoral keluarga, kaum muda dan anak-anak”. Sasaran akhirnya tentu saja Sinode III Sesi III menghasilkan reksa pastoral keluarga, anak-anak dan kaum muda yang tepag guna, berdaya guna, dan menjawabi kebutuhan zaman (Flores Pos, 24 September 2014).

Kita kemudian mendapatkan gambaran dan fakta mengenai reksa pastoral kaum muda dari presentasi yang disampaikan Ketua Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Ruteng Romo Edy Menori Pr pada pertemuan Rabu (24/9/2014) yang bertajuk “Pastoral For Menuju Pastoral With Young People”.  Faktanya adalah dari segi struktur administratif, Komisi Kepemudaan telah terbentuk mulai dari level keuskupan hingga level paroki. Namun, komisi-komisi kepemudaan itu seringkali tidak memiliki program kerja yang jelas. Ada program tapi tidak dilaksanakan. Ada yang memiliki kegiatan tapi tujuannya tidak jelas. Masalah utama lainnya adalah tidak tersedianya tenaga pendamping yang purna waktu. Singkat kata, pastoral kaum muda belum berjalan maksimal.
 Kita tidak bisa menampik bahwa pastoral kaum muda adalah bagian integral dari pastoral gereja. Karena memang kaum muda selalu mengharapkan uluran tangan Gereja untuk berjalan bersama mereka dalam semangat zaman yang begitu cepat berubah. Kaum muda membutuhkan Gereja dan Gereja dengan sendirinya membutuhkan kaum muda untuk menopang keberlanjutan eksistensinya. Relasi simbiosis mutualisme seperti ini adalah sebuah panggilan yang tak terelakkan dari Gereja agar Ibunda Gereja membuka tangannya untuk menyapa dan merangkul kaum muda.  
Kita semua sadar dan sependapat bahwa masa depan Gereja berada di tangan kaum muda dan akan selalu demikian dalam sejarahnya. Tetapi faktanya adalah seringkali kita belum mendapatkan cara-cara yang tepat dan jitu untuk menjawabi kerinduan mereka yang bersumber di dalam keterbatasan tenaga pendamping dan sumber daya finansial yang mendukung program pembinaan dan pendampingan kaum muda itu. Mungkin pula pendekatan kita belum terlalu mengena atau mungkin pula pendekatan adalah hasil copy paste dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang pernah kita lakukan namun barangkali tidak cocok dengan samangat zaman saat ini.
Sinode III Sesi III Gereja Keuskupan Ruteng harus bisa menjawabi kerinduan religius yang membara di dalam kaum muda. Kita mengatakan bahwa kaum muda apatis terhadap kegiatan gereja, ya itu betul. Fakta yang kita saksikan memang demikian. Tetapi pada sisi lain kita mendapatkan fakta yang berbeda bahwa sering pula kaum muda kita terutama mereka yang pulang rantau entah sebagai pekerja migran atau mahasiswa di kota-kota besar justru tertarik pada ekspresi-ekspresi baru keagamaan tertentu dan mempengaruhi kelompok muda lainnya di pedesasan dan perkotaan. Oleh karena itu peserta sinode bisa merumuskan dengan lebih baik dan mudah-mudahan berkat bimbingan Roh Kudus, Gereja Katolik Keuskupan Ruteng selalu mendapatkan cara-cara baru untuk menjawabi kerinduan religius yang menggelora di dalam jiwa kelana kaum muda.

Bentara,  Flores Pos, 26-9-2014




1 komentar:

Monica Tan mengatakan...

Selamat siang, kalau saya mau bertanya mengenai pengiriman artikel, dimana saya bisa menghubungi pak frans? Terima kasih.