Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

14 Maret 2016

Natal, Pilkada, dan Solidaritas

Oleh Frans Obon

MENJELANG Natal, pusat-pusat perbelanjaan baik pertokoan maupun swalayan di Ruteng sudah mulai dipadati para pembeli. Selain barang kebutuhan pokok, para pembeli memburu pernak-pernik Natal dan pakaian dan sepatu baru. Semua ini adalah rutinitas menjelang perayaan Natal setiap tahun. Hal ini tentu saja sisi lahiriah dari perayaan Natal. Namun gegap gempita Natal dalam hal-hal lahiriah seperti ini tidak boleh melupakan sisi kerohanian dari perayaan Natal.

04 November 2014

Revolusi Paradigmatik


Oleh Frans Obon
USKUP Ruteng Mgr Hubert Leteng merasa prihatin dengan masalah pertambangan di Manggarai raya karena telah menimbulkan konflik di kalangan masyarakat. Dalam masalah tambang itu pula, masyarakat petani khususnya dalam kasus Tambang di Tumbak di wilayah bagian utara Kabupaten  Manggarai Timur terpaksa berhadapan dengan aparat kepolisian. Oleh karena itu Uskup Hubert mendesak pemerintah memikirkan secara cermat kebijakan pertambangan. Bahkan Uskup mendesak para bupati mencabut semua izin usaha pertambangan (IUP) (Flores Pos, 20 September 2014).

13 Mei 2014

Tenaga Harian Lepas

Oleh Frans Obon 

Meski masalah tanaga harian lepas itu ditemukan pada hampir semua kabupaten lama dan kabupaten baru, kita mengambil Kabupaten Nagekeo sebagai salah satu contoh karena kebetulan dalam rapat, 21 Januari 2014, pemerintah Kabupaten Nagekeo membahas soal tenaga harian lepas ini. Bupati dan Wakil Bupati serta pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) membicarakan masalah ini. Ada banyak usulan praktis setelah Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Nagekeo memaparkan jumlah tenaga harian lepas dalam enam tahun terakhir. Pada awal tahun 2014 ini Bupati Elias Djo mau membarui kontrak tenaga harian lepas melalui Surat Keputusan Bupati (Flores Pos, 28 Januari 2014).

12 Mei 2014

Agama Flores, Politik Flores

Oleh Frans Obon

April  2012, saya menerbitkan sebuah buku berjudul: Agama Flores, Politik Flores, setebal 480 halaman yang diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. Buku ini diberi Kata Pengantar oleh Pater Dr John Dami Mukese SVD, Pemimpim Umum Harian Flores Pos, berbasis di Ende. Politik Passing Over adalah judul Kata Pengantar buku tersebut. Judul Kata Pengantar ini sebetulnya dimaksudkan menjadi judul antologi ini. Tetapi kemudian diubah menjadi Agama Flores, Politik Flores, untuk memberikan konteks yang lebih berdaya guna. Catatan sederhana ini, saya ambil dari pengantar dan sinopsis buku tersebut.
SELAMA bekeja sebagai wartawan sejak 1994 pada Mingguan Dian, yang berbasis di Ende, Flores,  sebuah daerah dengan jarak 1.650 kilometer arah timur Jakarta, agama dan politik telah menjadi perhatian utama saya. Tentu saja tidak berarti bidang-bidang lain dari segi kehidupan masyarakat Flores tidak saya perhatikan.

Budaya Lokal dalam Politik Lokal

Oleh Frans Obon

Bupati Manggarai Anthony Bagul Dagur dalam pidato pelantikannya  24 Februari 2000 mengatakan bahwa pemerintah daerah memerlukan pendekatan sosial budaya dalam penyelesaian masalah di Manggarai.  Penekanan pada pendekatan sosial budaya itu memberikan kita harapan dihidupkannya kembali berbagai aktivitas budaya sebagai ekspresi jati diri orang Manggarai.
Paling tidak juga, katakanlah tanpa ajakan ini pun, perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat Manggarai saat ini minimal mampu mendorong sebuah diskusi yang intens untuk menelaah berbagai soal perubahan sosial yang ada.  Atau minimal juga upaya itu memberikan harapan baru untuk apa yang dikatakan dalam puisi Mazmur Uma Rana dari John Dami Mukese, mengajak masyarakat Manggarai untuk menyadarkan kembali kuni agu kalo (jati dirinya). Mengajak masyarakat Manggarai menenum kembali kisah-kisah kehidupan yang dinyanyikan dalam sanda dengan gerak tari melingkar perlambang kesatuan dan persatuan dengan irama kaki yang seragam yang memuat falsafah muku ca puu neka woleng curup, teu ca ambo neka woleng jaong (jangkong), syair-syair indah dalam mbata dan gita cinta dalam danding yang dilantunkan pada waktu malam bersama gadis-gadisnya yang berkulit kuning langsat, gerakan-gerakan mistik religius dalam raga sae ketika acara paki kaba (potong kerbau) atau paki jarang bolong (kuda hitam) di kampung-kampung di Manggarai yang syarat dengan gerakan spiritual berpadu estetika indah dan sikap ksatria yang diperagakan dalam caci bercirikan sikap sportif.

Pakta Integritas

Oleh Frans Obon

Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera mendapat kesempatan kedua untuk memimpin Kabupaten Sikka, sebuah kabupaten yang seringkali mencitrakan dirinya sebagai barometer demokrasi di Nusa Tenggara Timur ( NTT) kendati klaim ini masih debatable (dapat diperdebatkan). Namun sebagaimana kabupaten lainnya di NTT, fakta menunjukkan bahwa kemajuan demokrasi itu tidak berjalan kompatibel dengan kemajuan ekonomi. Kabupaten Sikka masih harus berjuang melawan kemiskinan ekonomi dan belakangan masih harus berjuang pula  mengurangi kasus-kasus korupsi.

Bupati Yoseph Ansar Rera pernah menjabat Wakil Bupati Sikka mendampingi Bupati Alex Longginus (2004-2009). Kemudian keduanya berpisah. Lalu, pada Pemilukada 2013, keduanya bertarung hingga putaran kedua. Bupati Ansar Rera bersama Wakil Bupati Paulus Nong Susar memenangkan pertarungan ini dengan meraih 74.988 suara dari total suara sah 145.414 dan Alex Longginus dan Fransiskus Diogo Idong meraih 67.839 suara atau selisih 7.149 suara.

06 Mei 2014

Klaim-Mengklaim

Oleh FRANS OBON
Tahun 2014 dibaptis oleh sejumlah kalangan sebagai tahun politik. Penamaan itu merujuk pada dua peristiwa penting dalam kehidupan bangsa Indonesia yakni Pemilihan Legislatif dan Pemilu Presiden. Dengan demikian dalam dua bulan terakhir sebelum Pemilu Legislatif pada 9 April 2014, aktivitas politik para calon anggota legislatif meningkat. Safari politik dari kampung ke kampung makin gencar dan serentak pula aktivitas politik makin memperlihatkan citra politik sebagai “sebuah berkah” musiman.
Di tengah hiruk pikuk politik itu, kita mendapatkan fenomena baru di dalam praktik politik kita yakni klaim-mengklaim program yang diturunkan ke masyarakat perdesaan. Hal ini dilakukan baik oleh calon anggota legislatif daerah maupun calon legislatif  di Senayan. Salah satu contoh yang dapat kita sebutkan adalah Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP). Disebutkan bahwa ada calon anggota legislatif tertentu mengklaim bahwa program tersebut adalah hasil dari perjuangannya dan perjuangan partai tertentu (Flores Pos, 3 Februari 2014 dan Flores Pos, 17 Januari 2014).

04 Mei 2014

Disiplin Birokrasi

Oleh FRANS OBON

 Pemerintah daerah di Flores dan Lembata mencoba melakukan upaya reformasi birokrasi dengan titik star menegakkan disiplin para pegawai negeri sipil. Penegakan disiplin itu pada umumnya dilakukan bulan-bulan pertama pemerintahan baru hasil Pemilukada. Namun, penegakan disiplin pegawai pada akhirnya tidak berhasil dan para pegawai kembali ke kebiasaan lama. Dari satu  periode ke periode lainnya, penegakan disiplin birokrasi selalu menjadi wacana dan pelaksanaannya selalu temporal.
Kita menyebutkan beberapa contoh usaha pemerintah daerah di Flores dan Lembata untuk menegakkan disiplin di kalangan birokrasi. Pada tahun 2012, Bupati Ngada memberikan sanksi kepada para pegawai negeri sipil yang tidak disiplin masuk kantor. Sanksi yang diberikan tidak saja berupa teguran dan peringatan, tetapi para pegawai yang tidak berdisiplin disuruh berjalan kaki di Kota Bajawa (Bentara Flores Pos, 21 April 2012).

Politik sebagai Panggilan

Oleh FRANS OBON
 Bagi Gereja Katolik, telah menjadi proposisi dan prinsip dasar bahwa keterlibatan umat Katolik dalam kehidupan politik adalah sebuah panggilan keniscayaan dari keimanan mereka. Orang-orang Katolik dipanggil agar mengambil bagian aktif di dalam politik untuk menentukan  mengarahkan dan membarui kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara ke arah kebaikan bersama. Dengan demikian keterlibatan di dalam politik tersebut dipandang sebagai panggilan, yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. 
Oleh karena itu pula Pemilu sebagai jalan demokrasi untuk penyelenggaraan kehidupan bersama  perlu  dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan lembaga-lembaga demokrasi hasil Pemilu tersebut diisi oleh orang-orang yang dinilai jujur, bersih, adil, mumpuni, dan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

29 April 2014

Pastoral Tata Dunia

Oleh FRANS OBON
Hampir menjadi keluhan umum di setiap keuskupan di Nusa Tenggara bahwa pastoral tata dunia kita terutama dalam urusan sosial politik masih suam-suam kuku. Kehadiran politisi-politisi Katolik yang mengemban tugas pastoral tata dunia di pemerintahan, di lembaga legislatif, dan lembaga negara lainnya masih belum mengimplementasikan moto 100 persen Katolik dan 100 persen warga negara Indonesia.
Tidak terkecuali dalam konteks kehidupan Gereja Katolik Manggarai (Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur), kita pun mengadapi masalah serupa. Survei yang dilakukan oleh tim Keuskupan Ruteng menunjukkan hal itu. Tingkat kepuasan umat Katolik Manggarai terhadap bidang reksa pastoral lingkungan hidup, sosio-politik, dan ekonomi hanyalah 31,1 persen, sementara tingkat kepuasan umat terhadap pelayanan sakramental sangat tinggi (Flores Pos, 17 Januari 2014).
Hal ini tentu saja mencerminkan bahwa ibadah liturgis kita yang meriah masih belum mampu mendorong keterlibatan aktif umat Katolik untuk membarui ruang publik masyarakat Manggarai. Padahal seharusnya liturgi kita mesti terkait erat dengan keterlibatan kita yang aktif dalam mengubah tata kehidupan sosial kita. Kata-kata yang diucapkan setelah perayaan ekaristi, “Pergilah, kamu diutus” adalah kata-kata penugasan untuk mewujudnyatakan iman dalam perbuatan.

Serangan Balik Para Camat


Oleh FRANS OBON
Kita bisa memahami kekecewaan para camat dari 9 kecamatan di Manggarai Timur karena anggota DPRD Manggarai Timur tidak mengakomodasi pembelian kendaraan dinas operasional para camat. Topografi Manggarai Timur yang begitu berat dengan infrastruktur jalan raya di wilayah kecamatan dan pedesaan yang buruk tentu saja membuat mobilitas para camat terganggu.
Menurut para camat, kendaraan yang dipakai para camat sekarang sudah tidak layak lagi untuk menunjang kinerja mereka dalam menangani berbagai persoalan di berbagai desa dan kampung. Para camat begitu senang dan antusias ketika mendengar bahwa pemerintah kabupaten mengusulkan dana pembelian kendaraan dinas para camat. Namun, anggota DPRD Manggarai Timur menolaknya (Flores Pos, 18 Januari 2014).
Penolakan ini sudah pasti mencerminkan adanya perbedaan prioritas dalam mengalokasikan dana pembangunan di Manggarai Timur. Dalam pandangan anggota DPRD Manggarai Timur pembelian mobil dinas para camat bukanlah sebuah prioritas. DPRD ingin memperbesar belanja modal, anggaran yang bersentuhan langsung dengan peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Sementara bila anggaran pembelian mobil dinas disetujui, maka hal itu akan menambah besar belanja yang dipergunakan untuk aparatur pemerintah.

28 April 2014

Jangan Jadi Penonton

Oleh FRANS OBON

Selama empat pekan ke depan, umat Katolik memasuki masa Adventus, masa perenungan dan persiapan lahir dan batin untuk menyambut Natal. Adventus adalah sebuah kesempatan untuk berefleksi, untuk melihat kembali ke dalam diri dalam konteks relasi vertikal dengan Tuhan dan relasi horisontal dengan sesama manusia dan tata ciptaan  lainnya.
Dalam konteks itu, Surat Gembala masa Adventus Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota pada tahun 2013 ini mengajak umat Katolik, termasuk di dalamnya semua orang yang berkehendak baik, untuk melihat kembali tata kehidupan sosial kita.  Surat Gembala itu mengajak umat Katolik untuk berpartisipasi aktif di dalam kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara. 

Umat Katolik diajak untuk terlibat secara penuh di dalam pergulatan kemanusiaan untuk menciptakan tata kehidupan sosial yang tertib dan sejahtera lahir dan batin. Tuntutan ini yang sifatnya imperatif adalah bagian dari  tanggung jawab umat Katolik untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan bersama dalam segala segi. Dengan demikian, tuntutan untuk berpartisipasi aktif itu merupakan  prasyarat dasar bagi orang Katolik agar sungguh-sungguh menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen warga negara Indonesia.
Di dalam percaturan bersama itu, partisipasi aktif kita haruslah berpedoman pada prinsip-prinsip dasar. Uskup memberikan beberapa kriteria dasar: menghormati harkat dan martabat kemanusiaan, tidak melanggar dan mengabaikan hak-hak asasi, dilakukan dalam semangat persaudaraan lintas batas, tidak boleh mengorbankan orang lain terutama masyarakat kecil yang miskin, lemah dan tak berdaya, taat asas dan taat hukum.

25 September 2012

Kata Akhir dari Jakarta

Oleh FRANS OBON

Tahun depan (2013) beberapa kabupaten di Flores dan Lembata akan memilih bupati dan wakil bupati. Dinamika dan nuansa politik pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) itu sudah mulai terasa. Beberapa partai telah melakukan proses politik. Ada partai yang membuka pendaftaran para kandidat. Ada partai yang telah mengadakan rapat kerja khusus di mana pengurus-pengurus partai pada tingkat bawah menyebutkan beberapa nama. Beberapa partai telah membentuk koalisi tapi belum berani menyebut figur. Pendek kata dalam beberapa bulan terakhir ini, kita sudah melihat manuver politik dari orang-orang yang punya keinginan bertarung dalam pemilukada.

07 Maret 2010

Kontrak Politik

Oleh FRANS OBON

BANYAK orang percaya bahwa kontrak politik adalah jalan terbaik untuk tumbuhnya komitmen politik antara konstituen dan aktor politik di lembaga legislatif. Dukungan ditarik jika aktor politik tidak menepati kontrak politik yang telah dibuat. Kontrak politik itu kita dengar lagi menjelang pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah terutama antara calon dan partai politik.

Pada tahun 1999 ketika pertama kali digelar pemilu pada masa Reformasi politik di Indonesia, banyak sekali usulan dan gagasan untuk dibuat kontrak politik. Gagasan ini diyakini bisa mempertebal komitmen aktor politik pada konstituen mereka. Konstituen dapat menarik kembali dukungan terhadap aktor politik jika dia tidak menaati kontrak politik yang telah dibuat. Dengan ini dia akan kehilangan dukungan massa politik.

03 Mei 2009

Tak Mau Makan Janji

Oleh FRANS OBON

Konon kemenangan Partai Demokrat ditunjang oleh iklan di media massa dan televisi, serta iklan di media online. Iklan yang masif, popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan program kerja pemerintah yang populis adalah tiga faktor utama terdongkraknya suara Partai Demokrat pada Pemilu Legislatif 2009. Iklan (konten dan visualisasinya) dilihat sebagai sebuah metode baru dalam kampanye politik Indonesia. Manajemen komunikasi presiden sendiri jauh lebih baik daripada manajemen komunikasi presiden-presiden sebelumnya. “Orang-orang presiden” pandai memenej komunikasi dengan media massa cetak maupun televisi.

17 April 2009

Visi, Misi, dan Gizi Politik

Oleh Frans Obon

PADA pemilu 2004 lalu, almarhum Nurcholish Madjid bicara soal visi, misi, dan gizi dalam praktik politik di Indonesia. Dia bilang kala itu, praktik politik Indonesia tidak hanya memerlukan visi dan misi, yang bisa menakar kemampuan dan intelektualitas calon pemimpin, melainkan juga memerlukan gizi. Gizi tidak lain adalah bagaimana uang bekerja dalam politik di Indonesia.

Di dalam praktiknya, sejak Pemilu 1999 dalam ranah publik orang gencar berbicara soal praktik politik uang (money politics). Sampai di daerah-daerah, bahkan di kampung-kampung orang bicara money politics. Apa persis arti dari kata itu bukanlah soal. Yang umum diketahui bahwa uang dipakai untuk membeli suara rakyat.

31 Maret 2009

Bicaralah di Depan Pelanggaran Nilai-Nilai

Oleh Frans Obon

Keberanian moral dan politik yang beretika dibutuhkan ketika politik diselewengkan untuk kepentingan diri dan kelompok.


ADA yang bilang, pertemuan tersebut terlambat dibuat. Daripada tidak sama sekali, lebih baik ada pertemuan, kata yang lain. Tapi ada satu nada dominan bahwa penting menggelar pertemuan secara rutin termasuk di komunitas basis untuk membicarakan soal politik kesejahteraan bersama.

“Kegelisahan” – bisa disebut begitu – tampak dalam pertemuan di aula Marinus Krol, Paroki Onekore, Jumat (27/3). Ini pertemuan dibuat Seksi Pendidikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Onekore, Keuskupan Agung Ende. “Pencerahan dan Pendidikan Politik Rasul Awam”, tema kegiatan ini dihadiri hampir 70 orang – terdiri dari calon anggota legislatif dan tokoh-tokoh umat di komunitas basis. Narasumber Pater Amatus Woi SVD dan moderator Irama Pelaseke.

11 Januari 2009

Pembaruan Terus Menerus!

Oleh FRANS OBON

Pembaruan. Itulah kata kunci ketika kita memasuki tahun baru. Dengan ini kita tidak hanya melihat perayaan tahun baru sekadar pergantian kalender. Tapi lebih sebagai refleksi untuk menilai kembali sepak terjang kehidupan pribadi dan kehidupan sosial kemarin, hari ini dan demi merancang masa depan yang lebih baik. 

Di dalam konteks kehidupan publik, mendesak rasanya kita melakukan pembaruan-pembaruan di segala sektor kehidupan kita. Dalam ranah politik, misalnya, kita perlu menegakkan kembali komitmen kita untuk memahkotai seluruh aktivitas politik dengan kesejehateraan umum (bonum publicum). 

26 November 2008

Menghargai Perbedaan Kultur

Oleh FRANS OBON
Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas mengunjungi masyarakat Kabupaten Ende. Dalam dua hari kunjungannya, Selasa dan Rabu (25-26/11), Sultan dan Ratu Hemas bertemu dengan berbagai kalangan baik masyarakat umum maupun dengan para pelajar dan mahasiswa di Kota Ende – sebuah kota yang dalam sejarah Flores merupakan pusat pendidikan yang dirintis Gereja Katolik dan pusat pemerintahan Daerah Flores.