Oleh FRANS OBON
Tahun 2014 dibaptis oleh
sejumlah kalangan sebagai tahun politik. Penamaan itu merujuk pada dua
peristiwa penting dalam kehidupan bangsa Indonesia yakni Pemilihan Legislatif
dan Pemilu Presiden. Dengan demikian dalam dua bulan terakhir sebelum Pemilu
Legislatif pada 9 April 2014, aktivitas politik para calon anggota legislatif
meningkat. Safari politik dari kampung ke kampung makin gencar dan serentak
pula aktivitas politik makin memperlihatkan citra politik sebagai “sebuah
berkah” musiman.
Di tengah hiruk pikuk
politik itu, kita mendapatkan fenomena baru di dalam praktik politik kita yakni
klaim-mengklaim program yang diturunkan ke masyarakat perdesaan. Hal ini
dilakukan baik oleh calon anggota legislatif daerah maupun calon
legislatif di Senayan. Salah satu contoh
yang dapat kita sebutkan adalah Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan
(PPIP). Disebutkan bahwa ada calon anggota legislatif tertentu mengklaim bahwa
program tersebut adalah hasil dari perjuangannya dan perjuangan partai tertentu
(Flores Pos, 3 Februari 2014 dan Flores Pos, 17 Januari 2014).