01 Desember 2008

Kita Butuh Lembaga Konsultasi

Oleh FRANS OBON

Dalam bulan November saja di Kabupaten Sikka, terjadi tiga kasus suami membunuh istri hingga meninggal dunia. Setelah membunuh istri dengan parang, suami mencoba membunuh diri sendiri. Namun nyawa para suami ini masih bisa diselamatkan karena mereka dilarikan ke rumah sakit oleh warga setempat. Ada beragam alasan. Ada yang dilatari oleh rasa cemburu. Yang lain karena pertengkaran yang awalnya sepele, lalu tak terkendali. Akhirnya berujung pada kematian.

Jika dilihat dari umur pelaku dan korban, rata-rata mereka berusia di atas 30-an tahun dan umur perkawinan mereka paling tinggi enam atau tujuh tahun. Dalam usia perkawinan yang relatif muda itu, terjadi krisis perkawinan yang luar biasa besarnya. Budaya damai di dalam rumah tangga sudah sirna. Budaya cinta akan kehidupan telah mati. Keluarga-keluarga muda ini tidak lagi menemukan jalan damai untuk menyelesaikan krisis rumah tangga mereka.
Krisis kehidupan rumah tangga telah melanda desa-desa kita. Ini tidak berarti dulu tidak ada suami yang membunuh istri hingga meninggal. Namun dilihat dari intesitasnya, belakangan makin meningkat. Kita saksikan bahwa makin banyak keluarga-keluarga muda berantakan lantaran suami mereka merantau ke Malaysia tanpa kabar balik. Istri-istri muda itu terpaksa menjadi orang tua tunggal dan menghidupi anak-anaknya seorang diri. Hal seperti menimbulkan krisis moral perkawinan.
Dari satu sisi extended family (keluarga besar) yang dianut dalam budaya kita memberikan keuntungan, tetapi di lain pihak merepotkan keluarga-keluarga muda dalam hal membangun keharmonisan di dalam keluarga mereka. Campur tangan mertua. Beban belis yang berat. Ongkos sosial kehidupan keluarga besar begitu menekan. Kesumpekan ini telah membuat keluarga muda ini gampang tersulut emosinya. Tidak ada lilin di ujung terowongan yang memberikan mereka sedikit cahaya agar bisa keluar dari kesulitan.
Kasus kekerasan dalam rumah tangga saat ini sudah sampai pada tingkat mengkhawatirkan. Kita perlu menolong keluarga-keluarga muda ini agar menyelesaikan masalah mereka dengan jalan damai.
Siapa yang bisa menolong mereka? Kita menaruh harapan besar pada reksa pastoral Gereja Katolik. Kita inginkan agar ada perhatian khusus pada masalah-masalah keluarga. Ada reksa pastoral khusus. Ada tenaga khusus yang memberi perhatian di sini. Mungkin ada baiknya ada lembaga-lembaga yang dibangun khusus oleh Gereja Katolik dengan melibatkan psikologi-psikolog yang terampil. Memang secara tradisional dalam Gereja Katolik, pastor menjadi tempat konsultasi yang baik. Tetapi perkembangan zaman menuntut Gereja Katolik untuk melibatkan tenaga profesional di bidang konseling. Lembaga konseling ini barangkali juga nantinya akan menjadi tempat konsultasi pasangan suami istri dari berbagai agama.

Flores Pos / Bentara / KDRT
1 Desember 2008


1 komentar:

Angela mengatakan...

Sangat setuju! Itu kalimat yang tepat untuk tulisan anda. Hal ini di dasarkan pada pengalaman saya sendiri yang sangatlah sulit untuk mendapatkan bimbingan secara psikologis (dan tentu saja berbasis iman Katolik) di saat mengalami krisis rumah tangga.

Apalagi terus terang saja saya bukanlah aktivis gereja, yang benar-benar tidak tahu harus 'mencari' dimana. Yang saya jalani hanyalah rutinis perayaan Ekaristi mingguan.

Konsultasi dengan pastor Paroki pernah saya lakukan di awal permasalahan dalam rumah tangga kami, tapi nyatanya tidak membuahkan hasil yang baik seperti yang diharapkan, sehingga makin berlarut-larut dan semakin buruk, bahkan ini memasuki tahun ke-5 kami pisah rumah, dengan hasil nihil sampai sekarang!! Coba bayangkan.....Pastor pada saat itu menurut saya bersikap arogan, menanggapi suatu masalah seadanya dan juga tidak tahu apa langkah tepat yang harus dilakukan, mempermalukan saya secara pribadi di depan umat lain...wah...pengalaman yang membuat saya mengambil langkah seribu untuk menjauh dari gereja!Untungnya Iman saya yang hanya seujung kuku ini masih melindungi dan menguatkan.

Karena itu saya sangat mendukung usulan saudara Frans Obon ini, harus ada Lembaga Konseling yg didukung oleh ahlinya (psikolog) dan tentu saja Imam Katolik yang memberi masukan dari sisi religiusnya.
Saya sangat memerlukan lembaga itu, bahkan saya percaya masih banyak juga kaum muda di luar sana yang membutuhkannya.

Bukankah kita satu gereja dan satu tubuh? Kita juga yang harus menjaganya, tidak mau kehilangan anggota-anggota tubuh lainnya 'kan??

Salam,
Angela