24 November 2008

Selamat Uskup San

Oleh FRANS OBON

Umat Katolik Keuskupan Denpasar boleh bergembira. Karena dalam waktu tidak terlalu lama, mereka mendapatkan uskup baru menggantikan almarhum Uskup Benyamin Yosef Bria, yang meninggal setahun lalu. Tahta Suci Paus Benediktus XVI, Sabtu (22/11) mengangkat Romo Silvester San Pr, Praeses Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere jadi Uskup Denpasar. Pengumuman pencalonannya di istana Keuskupan Maumere yang disiarkan melalui Radio Keuskupan Rogate disambut gembira umat Katolik. Pengangkatannya diumumkan juga di keuskupan-keuskupan di Flores. 

Romo San meraih doktor dalam bidang Teologi Biblis dari Universitas Urbanianum Roma, Italia (1995-1997). Dia ditahbiskan imam, 29 Juli 1988 di Maumere. Romo San lahir di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, 14 Agustus 1961. Uskup San meminta dukungan doa dari umat Katolik di Flores untuk tugas kegembalaannya di Keuskupan Denpasar nanti.
Umat Katolik menyambut gembira pengangkatan seorang uskup bukan karena jabatan uskup itu sebuah prestise, melainkan karena tugasnya membimbing, menuntun umat Katolik menuju Guru Agung Yesus Kristus cukup sentral. Karena Uskup dengan tongkat kegembalaannya menuntun kawanannya di tengah arus zaman globalisasi yang begitu deras sekarang ini. Tugas uskup menjadi tidak ringan di tengah dunia yang terfragmentasi oleh kepentingan duniawi, di tengah situasi sekularisme dan kapitalisme yang menggurita, di tengah transisi politik Indonesia menuju demokrasi. Seorang uskup harus dengan tekun merenungkan Sabda Tuhan, memelihara perbendaharaan iman (depositum fidei) dan menyiarkannya kepada orang-orang zaman ini. Seorang uskup yang dengan tekun berdoa dan mendengar bisikan Roh Kudus mewartakan iman dan moral kepada dunia zaman ini dan ajaran iman dan moralnya didengarkan sehingga menimbulkan ketaatan iman dan moral pula. Ketaatan iman dan moral itu tentu perkara ke dalam kehidupan Gereja Katolik sendiri. Tentu lebih berat lagi adalah bagaimana ajaran iman dan moral Gereja Katolik bergema di tengah kehidupan masyarakat yang makin plural, sehingga menarik orang-orang zaman ini.
Dalam hal tertentu, pengangkatan ini adalah kebanggaan iman umat Katolik Flores. Kebanggaan keluarga-keluarga Katolik di Flores. Kebanggaan seminari-seminari di Flores. Flores kembali memberikan sumbangannya pada kepentingan Gereja Lokal di Indonesia. Bahkan kepada kepentingan Gereja universal. Kebanggaan ini tentu sekaligus menuntut tanggung jawab yang lebih besar agar keluarga-keluarga Katolik di Flores sungguh menjadi tempat persemaian iman Katolik yang benar di bawah bimbingan para uskup. Seminari-seminari menjadi tempat persemaian yang subur. Tempat para calon ditempah untuk mampu menjawab tuntutan zaman ini. Kita bangga, tapi serentak memberi kita tanggung jawab. Selamat kepada Uskup San.


Flores Pos / bentara /
25 November 2008

1 komentar:

FARIS WANGGE mengatakan...

Jika dibandingkan dengan tugas jurnalistik yang pernah saya lakukan, maka saya kira ini menjadi salah satu tugas yang tak akan mungkin saya lupakan. Setelah mendapat kabar bahwa saya menjadi salah satu panitia tabhisan Uskup Denpasar, tak terbersit dalam diri saya untuk kemudian memanggul tugas menuju Flores menemui Bapa Uskup. Pengetahuan tentang Bapa Uskup teramat minim dalam diri saya. Memang sewaktu bersekolah di SMP Seminari Mataloko, nama Rm San, Pr sudah terdengar tapi sesungguhnya saya sama sekali tak pernah tahu menahu dan bertemu muka secara langsung dengan beliau.

Saya kemudian dipercayakan oleh tim pengerjaan buku kenangan yang dikoordinir oleh Rm Venus Dewantoro, Pr mewawancarai Uskup San langsung ke Ritapiret. Setelah mempersiapkan segala hal dan berbekal surat tugas yang ditanda tanagi oleh Rm Administrator Keuskupan denpasar, persis tanggal 9 Januari 2009 saya pun berangkat menggunakan pesawat Merpati menuju Kota Maumere. Saya tiba di Maumere pukul 14.00 Wita (Simak sajian lengkap hasil perjalanan jurnalistik ini dalam Buku kenangan tabhisan Mgr DR Silvester San, Pr)