03 September 2007

Betapa Terlelapnya Flores

Oleh: FRANS OBON

PEKAN ketiga Juni lalu, saya mengikuti kursus jurnalistik sastrawi yang digelar Yayasan Pantau Jakarta, yang diketuai Andreas Harsono. Orang ini amat peduli dengan perkembangan media dan memiliki minat yang besar mengembangkan media lokal, serta meningkatkan mutu jurnalisme di Indonesia. Yayasan Pantau memfokuskan salah satu kegiatannya pada kursus jurnalistik dengan genre sastrawi, sehingga kursus ini disebut kursus jurnalisme sastrawi.

Minggu pertama kursus diampu Janet E. Steele dari The George Washington University. Janet menulis Wars Within, sebuah buku yang memikat mengenai Majalah Tempo. Ini menjadi salah satu contoh karya berupa buku yang menggunakan narrative reporting yang memikat dan mengalir.

Minggu kedua Andreas Harsono tidak saja membahas teknik menulis dengan metode jurnalisme sastrawi, sebuah genre yang belum begitu populer di Indonesia, melainkan juga membahas nasionalisme. Dia membagikan kepada 16 peserta kursus karya-karya peneliti sosial yang membahas konflik komunal di Indonesia. Konflik di Maluku Utara, yang dipicu pemekaran wilayah dan perang yang tak dikenal (unknown war) di Kalimantan di mana etnik Cina menjadi korban.

Selama dua minggu itu, saya menghirup udara Jakarta. Di tengah hilir mudik kendaraan dan lalulalang orang, tiba-tiba saya merasa sendirian. Meski tidak teralienasi, meminjam istilah Karl Marx, tetapi mungkin lebih tepat terlempar ke dalam dunia yang saya belum terlalu kenal.

Pian, seorang satpam berseragam loreng kayak tentara mendekat.
“Dari mana?”
“Flores,” kataku.
“Kerja di mana?”
“Di Flores”
“Buat apa di sini?”
“Ada latihan kewartawanan”.

Dia membangun sikap ramah. Tapi saya tahu, dia hanya perlu tahu penghuni “rumah” yang baru itu. Malam pertama di Jakarta, saya menghabiskan sekitar lima jam untuk melihat denyut Jakarta di malam hari. Sebagai orang baru saya menanggapi setiap keramahan dengan sikap awas. Kriminalitas yang tinggi membuat saya tidak mempercayai setiap keramahan. Tiga hari kemudian ketika saya tanya apakah ia bekas tentara atau tentara yang sedang aktif, dia bilang tidak. Empat satpam di rumah kos di Rawa Blong, Jakarta Timur itu menggunakan celana loreng tentara hanyalah trik agar orang takut.

Hampir tiap malam saya duduk di samping gerobak nasi goreng Mas Yudi dari Pekalongan, Jawa Tengah. Dia merantau ke Jakarta sejak usia 25 tahun. Sekarang usianya 45 tahun. Saya menangkap semangatnya dari peluh keringat dan gerakan tangannya yang lincah.

Semula di Jakarta dia bekerja di sebuah usaha konfeksi. Namun dia tidak tahu nama konfeksi yang mempekerjakan 20-30 orang itu. Dia bekerja selama 15 tahun karena usaha konfeksi ini gulung tikar akibat krisis ekonomi menerpa Indonesia 1998.

Dia kelimpungan ketika usaha konfeksi ini ditutup sebab ia hanya sampai kelas tiga sekolah dasar. Selama bekerja di konfeksi, ia mendapat uang 200 ribu rupiah seminggu dari hasil kerja borongan.

Namun hidup terus berputar. Yudi harus menghidupi Sutinah, istrinya yang ia nikahi 14 tahun lalu dan dua anaknya Jamal dan Mukhron. Ia tidak mengenal ayahnya Yatih yang meninggalkannya semasih dia usia 6 bulan. Bahkan tanggal lahir pun ia tidak tahu lagi.

Enam bulan lamanya ia menjual nasi goreng milik kenalannya. Bulan ketujuh, ia membuka usaha sendiri. Dengan uang 200 ribu rupiah, ia membuat gerobak nasi goreng berukuran panjangnya 1,5 dan lebar satu meter. Dia mangkal di depan sebuah rumah kos berlantai tiga di Jln Palmerah Barat No. 6. Sepuluh meter ke arah kanannya ada warung Barokah masakan Padang. Di depan jalan dua arah berhadapan dengan usahanya ada warung kecil lainnya yang menjual nasi uduk dan nasi ikan. Usahanya hanya nasi goreng dan mi goreng dengan bumbu ala kadarnya. Hanya bawang merah, bawang putih dan kemiri. Dia berjualan mulai pukul 18.30 hingga pukul 02.00. Semalam dia mendapat uang 140 ribu rupiah. Dikurangi ongkos membeli bahan baku, ia mendapat 50 ribu rupiah. Berarti sebulan dia mendapat 1,5 juta. Ini kalau lagi sepi. Kalau lagi ramai, dia bisa mendapat 2 juta sebulan.

Di samping gerobak nasi goreng dan mi goreng itu saya duduk menyaksikan orang datang silih berganti memesan. Sesekali saya menanyai harapan akan masa depannya dan tentang hidup di Jakarta. Saya berusaha menangkap makna dari setiap peluh dan keringatnya. Dia tidak sedang mengajarkan saya pengertian-pengertian abstrak soal jawab dari mana manusia, ke mana manusia, siapa manusia, dan untuk apa manusia. Namun dia memberikan saya pelajaran bahwa hidup bukanlah deretan definisi. Hidup akan terus mengalir seperti air dan setiap tetes sangat berharga di tengah kedahagaan hidup.

Saya mulai bosan dengan nasi goreng dan mi goreng. Rabu malam pekan pertama saya pindah ke warung di seberang jalan dua arah itu, berdinding kain dan bergambar ayam jago, bebek, dan ikan lele. Di situ ada nasi pecel ikan lele dan ikan goreng. Aku ambil dari 10 tempat duduk kursi plastik tak berlengan yang melingkari sebuah meja panjang.

Aisyah, pemilik warung menyodorkan nasi putih dan ikan goreng. Sepiring tujuh ribuan. Aisyah juga tak tamat sekolah dasar. Semalam dia mendapatkan uang 200 ribuan. “Bukan main,” kata saya dalam hati.

Saya melihat matanya sedang menyelidikku. Meski dalam hatinya dia bersyukur satu lagi pelanggan “asing” datang. Saya bersikap sopan. Tiga pengamen datang. Main gitar, nyanyi tidak jelas dan saya tidak mau diganggu. Kuberi seribuan. Mereka pergi. “Cuka minyak orang mau makan diganggu”.

Kamis malam saya mau makan daging kambing. Lima puluh meter dari kos ada warung milik orang Jakarta. Sekali makan tigas belas ribu. Enak bukan main selagi panas. Kalau lagi sepi, semalam pemiliknya bisa mendapat tiga ratus ribu. Kalau lagi ramai, bisa 700 ribu. Kalau dikurangi ongkos, dia mengantongi keuntungan 400 ribu. Sebelum krisis, semalam dia bisa mendapat 3-4 juta.

Orang ini namanya Badillah, sarjana hukum dari Universitas Indonesia tahun 1996. Dia sempat bekerja di sebuah lembaga dengan gaji 2 juta rupiah sebulan. “Saya putuskan berhenti karena merasa terikat. Datang jam 07.00 pulang jam 17.00. Belum lagi diomelin”.

Badillah belum menikah dan berencana baru menikah tahun depan. Saat ini dia lagi kumpulkan uang mengongkosi adiknya kuliah. Ayahnya beristri empat dan punya anak 13 orang. Badillah anak istri kedua dengan lima bersaudara, dua laki dan tiga perempuan. Seorang adiknya sedang kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Dia berangkat dari rumah pkl. 15.00 dan pulang pkul 24.00. Siang hari dia bereskan segala sesuatu yang perlu untuk jual pada malam hari. Kalau daging kambing itu belum terjual habis, dia simpan di freezer. “Bisa bertahan 3-4 hari tanpa bau”.

“Saya tetap jaga mutu. Banyak orang kalau sudah pernah datang ke sini, akan datang lagi,” katanya setengah berpromosi.

“Di sini seekor kambing 800 ribu”.

Saya mengangguk.

“Ole!” kata saya dalam hati. Di Flores seekor kambing dijual 200 ribu.

DUA minggu saya berada di sebuah sudut kota Jakarta. Tidak ada lagi rasa terlempar. Jakarta pelan-pelan menjadi sebuah “sekolah baru” tentang semangat wirausaha, bagaimana menciptakan peluang, bagaimana momentum memicu momentum lainnya.

Tiba-tiba saya terkenang Flores. Di Flores, hidup adalah perayaan. Dari lahir hingga mati. Tidak ada fase hidup yang tidak dirayakan. Orang hidup penuh dengan pesta. Waktu lahir pesta, permandian (menjadi Katolik) pesta, sambut baru pesta, 40 hari setelah kematian pesta. Menikah pesta. Belum lagi belis puluhan bahkan ratusan juta. Orang Flores merasa nikmat dengan semua ini.

Siang hari orang Flores tidur lelap (siesta). Malam hari di Flores adalah malam yang sunyi. Di Jakarta malam adalah pergulatan dan pengolahan hidup. Orang berjuang untuk melipatgandakan talenta yang dimiliki. Jakarta tidak hanya memerlukan ijazah, namun semangat wirausaha yang mengandalkan hidup hemat dan kerja keras. Yudi, Aisyah dan Badillah adalah contoh bagaimana semangat dan kerja keras bisa menghidupi orang, bukan ijazah.

Betapa Flores terlelap dalam tidurnya yang panjang dan mungkin akan terus terlelap dalam lomba kehidupan tanpa henti ini. Flores mungkin akan terus terseret oleh gurita korupsi, kolusi, dan nepotisme dan cara hidup boros. Mungkin pula akan terus terseret oleh mentalitas nanti orang bilang apa, terseret oleh struktur sosial yang memakan ongkos. Flores mungkin terlelap dalam banyak hal.*

1 komentar:

Andreas Harsono mengatakan...

Pak Frans,

Kebiasaan siesta bukan berarti buruk. Siesta membuat kita hidup lebih sehat, ada saat istirahat di siang hari. Saya yang sudah tinggal di Jakarta 15 tahun, capek merasakan kehidupan disini. Saya bahkan iri dengan orang yang tinggal di Ende. Bisa siesta, bisa pesta dan hidup dengan sederhana. Orang bilang, rumput tetangga terasa lebih hijau. Ende menurut saya lebih hijau daripada Jakarta.