Tampilkan postingan dengan label sinode. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinode. Tampilkan semua postingan

02 Mei 2014

Menangkap Tanda-Tanda Zaman


Oleh FRANS OBON

Sejak Konsili Vatikan II, kata-kata menangkap tanda-tanda zaman seringkali digunakan untuk mengungkapkan keterbukaan Gereja Katolik terhadap perkembangan dan kemajuan zaman. Konsili Vatikan II pada hakikatnya adalah pembaruan yang terus menerus dari Gereja agar warta keselamatannya bisa ditangkap oleh manusia, pria dan wanita, pada zaman  ini. Gereja yang selalu membarui diri (ecclesia semper reformanda) adalah Gereja yang berusaha mencari cara-cara dan sarana-sarana yang cocok untuk mewartakan keselamatan kepada manusia zama ini.
Sinode III Keuskupan Ruteng yang tengah berlangsung sepekan ini di Ruteng dan dihadiri utusan-utusan dari paroki-paroki di seluruh Manggarai raya adalah untuk membahas reksa pastoral yang tepat dan cocok bagi umat Katolik Manggarai saat ini. Sasaran dan tujuannya adalah agar orang-orang  Katolik Manggarai memiliki kualitas iman yang kokoh, kuat dan berdimensi sosial. Sinode itu sendiri bermaksud agar reksa pastoral yang dihasilkan oleh Gereja Katolik Manggarai sungguh-sungguh menangkap keluh kesah umat Katolik, memberikan harapan akan masa depan yang baik dan mengantar orang kepada keselamatan utuh menyeluruh.

29 April 2014

Sinode Tolak Tambang


Oleh FRANS OBON

Salah satu keputusan penting Sinode Keuskupan Ruteng pada tahun 2014 adalah menolak pertambangan di Manggarai karena dinilai merusak keutuhan ciptaan.  Dalam konferensi pers, Jumat (17/1/2014) Romo Dr Marthin Chen mengatakan, dari berbagai diskusi selama sinode, diputuskan bahwa semua aktivitas yang merusak lingkungan baik oleh masyarakat maupun oleh pertambangan ditolak. Semua pihak diminta ikut menjaga keutuhan ciptaan , termasuk pemerintah yang berwenang mengeluarkan izin pertambangan agar ikut serta menjaga keutuhan ciptaan (Flores Pos, 20 Januari 2014).
Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng pada awal sinode menegaskan pentingnya umat Katolik Manggarai menjaga keutuhan ciptaan dan menolak pembangunan yang merusak lingkungan hidup dengan dalih meningkatkan pendapatan asli daerah. Menurut Uskup, tidaklah benar kesejahteraan rakyat diwujudkan dengan merusak lingkungan dan hutan. Gereja Katolik Manggarai berkomitmen untuk membangun kesadaran umat bahwa sumber daya alam itu terbatas. Gereja punya hak dan tanggung jawab untuk membangun kesadaran umat mengenai keterbatasan sumber daya alam dan kesadaran untuk menghormati keutuhan ciptaan.

28 April 2014

Solider dengan Perantau


Oleh Frans Obon

Gereja Katolik Manggarai telah mengambil langkah penting  dengan memberi perhatian pada masalah para pekerja migran dan masalah migrasi penduduk dari dan keluar Flores. Fokus utama dari keprihatinan pastoral ini, sebagaimana diputuskan dalam Sinode Keuskupan Ruteng 2014, adalah membangun sikap solider dengan para pekerja migran. Sikap ini lahir, selain dari pemahaman mengenai hakikat Gereja Katolik yang memandang dirinya sedang berziarah, tetapi juga lahir karena adanya kompleksitas masalah sebagai dampak dari migrasi tenaga kerja ke luar Flores.
Sinode menyebutkan bahwa banyak pria dan wanita dari Manggarai keluar dari Flores untuk mencari pekerjaan. Keluarga, suami, istri dan anak-anak ditinggalkan. Peserta Sinode sepakat dan berkomitmen menangani masalah ini bersama pemerintah dan pihak-pihak lainnya. Gereja membangun sikap solider dengan pekerja migran  dan menolong keluarga yang ditinggalkan (Flores Pos, 25 Januari 2014).
Masalah perantau yang sekarang disebut dengan para migran di Flores dan Lembata sudah lama terjadi, bahkan pada tahun 1970-an telah menjadi masalah serius. Ada banyak ekses yang terjadi, terutama terkait dengan kehidupan keluarga,  sel terkecil dari Gereja itu sendiri. Pada awalnya hanya prialah yang merantau, terutama kaum muda, tetapi lama kelamaan para pria yang telah berkeluarga juga merantau ke luar Flores, dengan tujuan utama adalah Malaysia. Ekonomi adalah alasan dan motivasi utama dari perantauan ini. Kondisi Flores dan Lembata yang miskin telah menyebabkan banyak kaum muda meninggalkan desa-desa dan merantau ke tanah orang.