Oleh Frans Obon
FLORES boleh berbangga. Dari sekian tempat pembuangan Presiden Soekarno, Flores punya tempat yang sentral. Bukan soal lama atau tidaknya dia ada di suatu tempat tetapi soal yang lebih strategis. Di tempat kita, di tanah kita, dia mengaku telah menemukan Pancasila. Di tepi laut, di bawah pohon sukun.
Interaksi Soekarno selama empat tahun di Flores (1934-1938) dengan misionaris dari Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD), dengan masyarakat Ende dan sekitarnya, dengan memandang laut dan gunungnya, flora dan faunanya, telah memberi dia sebuah insight bagi fondasi masa depan Indonesia modern. Keterlibatan Soekarno dalam pergerakan politik Indonesia, perjumpaannya dengan ideologi besar dunia dan kegandrungannya pada pustaka filsafat dan politik, telah membawa dia pada sebuah puncak untuk menemukan dasar yang kuat bagi Indonesia modern. Dan itu di Flores.