Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan

25 September 2012

Pertanian Tetap Penting

Oleh FRANS OBON

KITA sepakat dengan Komisi Keadilan dan Perdamaian (Justice, Peace, and Integrity of Creation/JPIC) Serikat Sabda Allah, OFM Indonesia, dan Keuskupan Ruteng yang mendorong pemerintah dan DPRD Manggarai agar tidak memasukkan pertambangan mineral dan batu bara dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Manggarai.


Karena pencatuman area pertambangan mineral dan batu bara dalam Rencana Tata Ruang Wilayah berarti membuka pintu bagi kepentingan politik dan ekonomi pertambangan di Manggarai sebagaimana diributkan selama ini (Flores Pos 23 April 2012). Dengan demikian sejak awal telah dicegah adanya konflik pertambangan di Manggarai antara para petani dan perusahaan tambang. 

Kita ingin menyebutkan lagi beberapa landasan pokok pendapat Komisi Keadilan dan Perdamaian SVD, OFM Indonesia dan Keuskupan Ruteng terkait pembahasan RTRW ini.  

Kampanye GSP

Oleh FRANS OBON

Pemerintah Kabupaten Ende di bawah kepemimpinan Bupati Don Bosco M Wangge dan Wakil Bupati Achmad Mochdar mencanangkan Gerakan Swasembada Pangan (GSP). Inti dari gerakan ini adalah bukan sekadar cukupnya ketersediaan pangan di Kabupaten Ende, melainkan pangan itu dihasilkan dari tanah kita sendiri.

Gerakan kecukupan pangan atau apa yang sering disebut swasembada pangan telah menjadi gerakan nasional di masa Orde Baru. Ketersediaan pangan yang cukup sudah jelas membuat harga pangan menjadi lebih murah. Karena sesuai dengan hukum ekonomi, kalau permintaan banyak dan persediaan sedikit, maka harga akan melambung tinggi. Sebaliknya persediaan banyak, permintaan sedikit, maka harga akan murah.  

21 Juni 2011

Lahan Pertanian Menyusut

Oleh FRANS OBON


KITA sedang menghadapi ancaman serius, terutama masyarakat pedesaan kita di Nusa Tenggara Timur. Ancaman itu tidak lain adalah perkiraan sekitar 3.000 hektare lahan pertanian di NTT beralih fungsi. Pemicunya adalah karena para petani membutuhkan uang sehingga dijual ke pihak lain (Flores Pos edisi 16 Juni 2011).


Meski terjadi penyusutan lahan, namun menurut Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Perkebunan NTT Cyrilus Timba Mbipi, masalah tersebut tidak mempengaruhi produksi pertanian. Bahkan untuk meningkatkan produksi padi pemerintah merancang program pembukaan sawah baru di sejumlah daerah.

Namun tidak lupa pula pemerintah meminta masyarakat untuk tidak tergantung pada konsumsi beras. Masih banyak pangan lokal seperti jagung dan ubi-ubian yang bisa dikonsumsi.

12 April 2010

Lembor yang Salah Urus

Oleh Frans Obon


Beberapa desa di Kecamatan Lembor, Manggarai Barat mulai dihantui paceklik terutama desa-desa di pinggir pantai. Banyak jagung, padi, dan kacang-kacangan mati akibat kekeringan. Hal ini akan menyebabkan masyarakat rentan terhadap kelaparan. Seperti diberitakan Flores Pos edisi 9 April, Jumat kemarin, bukan saja tanaman pertanian yang menurun produktivitasnya, tetapi juga hasil tangkapan nelayan. Jika dua sumber pendapatan masyarakat ini menurun produktivitasnya, maka sudah pasti masyarakat akan menderita kelaparan.

25 Januari 2010

Hilangnya Tradisi Kampung

Oleh Frans Obon

KITA sedih, tetapi mungkin tidak terkejut. Seorang petani di Kampung Wereng Desa Tengku Lawar Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur meninggal dibunuh oleh tiga petani lainnya pada Minggu, 10 Januari 2010.

Agustinus Suma dengan usus terburai dibunuh dengan sadis oleh tiga pelaku: Damasus Pasu, Yosef Sang, dan Anselmus Nedon. Motif pembunuhan adalah pembagian air sawah yang tidak merata. Mereka menuduh Sama melakukan ketidakadilan dalam membagi air sawah. Sebagaimana pengakuan pelaku, mereka dendam dengan tindakan korban. Cerita tiga pelaku tidak bisa dikonfirmasi dengan korban karena dia sudah meninggal. Pelaku dituduh telah melakukan pembunuhan berencana dan sudah ditahan oleh polisi.

16 Juli 2009

Jangan Main-Main dengan Proyek Irigasi

Oleh Frans Obon


KALANGAN DPRD Ngada mempersoalkan proyek irigasi pedesaan di Boti, Kelurahan Mataloko Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Proyek bernilai dua ratusan juta lebih itu terkesan tidak tuntas dan tidak bermutu karena dikerjakan asal jadi. Meski begitu pemerintah sudah mengajukan ke DPRD tambahan dana lima puluh juta. Dinas Pekerjaan Umum sebagai pemilik proyek mengatakan, penambahan tersebut diajukan karena ada permintaan dari masyarakat.

07 Juni 2009

Pangan

Oleh Frans Obon

Tiga bupati dari Flores diundang oleh Harm Foundation untuk menengok dari dekat pendekatan yang digunakan pemerintah Jerman dalam mengembangkan pertanian dan pedesaan. Bupati Manggarai Christian Rotok, Bupati Ende Don Bosco M Wangge dan Bupati Manggarai Barat Wilfridus Fidelis Pranda akan sejenak berada di Jerman.
Sistem pertanian dan penataan pedesaan barangkali dua hal penting yang bisa dipelajari dalam kunjungan ini. Karena justru dua hal ini amat krusial bagi pengembangan pertanian dan penataan pedesaan kita saat ini.

11 Januari 2009

Lembor Tetap Jadi Lumbung

Oleh FRANS OBON

Sudah sejak awal pencetakan sawah Lembor, wilayah itu memang dimaksudkan sebagai lumbung pangan terutama bagi Manggarai. Lembor dijadikan salah satu sentra produksi padi sawah. Usaha awal ini tidak lain agar masyarakat cukup pangan. Rakyat Manggarai tidak perlu lagi mendatangkan beras dari luar. Apalagi mengharapkan proyek beras miskin. Pemerintah daerah masa itu konsisten ingin mengembangkan apa yang kita sebut sekarang keamanan pangan (food security).

21 Oktober 2008

Membangun Pertanian Flores

Oleh FRANS OBON

Para petani dan orang-orang yang peduli dengan nasib para petani sudah tiga kali menggelar pertemuan yang diberi nama Musyawarah Besar (Mubes), berlangsung di Maumere, Ende, dan Bajawa. Kali ini Mubes yang melibatkan para petani dari Flores dan kepulauan itu digelar di Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat.

Pater Alex Ganggu SVD dari Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integration of Creation/JPIC) Serikat Sabda Allah (Divine Word Missionary Society) pada hari pertama pertemuan tiga hari ini (20-23 Oktober) mengajak para peserta untuk mengingat kembali rekomendasi-rekomendasi yang telah dihasilkan dalam tiga pertemuan sebelumnya. Hal ini penting untuk dilihat apakah rekomendasi-rekomendasi itu bisa diimplementasikan atau tidak.
Bagi kita, hal ini perlu direspon dengan serius oleh peserta dengan beberapa alasan. Pertama, sungguhkah rekomendasi itu lahir dari masalah petani kita atau sebuah transfer ide-ide global yang gagal dicarikan relevansinya dalam konteks kita. Sudah menjadi kebiasaan umum, orang-orang kita yang lompat dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya hanya mengambil oper gagasan-gagasan besar tanpa mengetahui persis konteks dan masalah lokal. Dampaknya terlihat dalam rekomendasi yang diberikan. Banyak kali rekomendasi tidak bisa dioperasionalkan secara konkret. Karena itu rekomendasi-rekomendasi dari pertemuan-pertemuan yang namanya besar seperti ini tidak dapat terimplementasikan dengan baik.
Kedua, pertanian subsisten seperti Flores dan Lembata dililit berbagai masalah seperti sumber daya manusia petani, teknologi terbatas, luas lahan pertanian terbatas, akses pasar terbatas, akses finansial terbatas, dan segala macam masalah lainnya. Keliru mendiagnosa masalah, keliru pula mencari jalan keluarnya. Sungguhkah masalah yang diangkat dalam pertemuan itu dirasakan sebagai masalah petani sendiri, atau bahan-bahan yang beredar dalam pertemuan disesuaikan saja dari bahan-bahan dari pertemuan di tempat lain? Dengan kata lain, masalah-masalah yang diangkat harus sungguh-sungguh masalah petani Flores.
Ketiga, kelompok aksi. Untuk mengefektifkan hasil pertemuan ini, apapun namanya, kita perlu membentuk kelompok aksi. Sebuah kelompok yang sungguh menjadi dinamisator bagi bekerja efektifnya rekomendasi ini. Kelompok aksi ini perlu membuka akses ke pemerintah, ke berbagai multi stakeholder yang terkait dengan masalah petani, akses ke finansial, dan akses ke pasar. Tanpa ada satu kelompok aksi ini, rekomendasi itu akan tetap jadi bahan beku di arsip-arsip kita.
Keempat, konflik lahan antara para petani adalah masalah serius yang dihadapi para petani kita. Dengan menggunakan pembenaran kekuasaan adat masa lalu, satu kampung bisa mengklaim dengan begitu saja lahan pertanian di kampung lainnya. Dalam pertikaian ini, tidak banyak pihak peduli.
Dengan ini sebenarnya membangun pertanian Flores berarti memahami dengan tepat masalah petani di daerah ini. Karena itu kita mendorong Mubes petani ini sebagai ajang membahas masalah konkret petani kita, sehingga solusinya dapat terimplementasikan.

Flores Pos / Bentara / Mubes /22 Oktober 2008