Tampilkan postingan dengan label pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pangan. Tampilkan semua postingan

17 Juni 2011

Ketahanan Pangan

Asian Development Bank (ADB) mengingatkan Asia untuk meningkatkan produktivitas pangan sejalan dengan makin meningkatnya jumlah pertambahan penduduk. Isu ketahanan pangan ini sudah lama menjadi kampanye pemerintahan lokal, namun lemah dalam impementasinya.



Oleh FRANS OBON

Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) mengingatkan negara-negara berkembang termasuk Indonesia untuk melihat betapa pentingnya isu pangan mengingat makin meningkatnya jumlah penduduk dunia (Flores Pos edisi 14 Juni 2011).

“Dalam jangka pendek, kebutuhan pangan penduduk mungkin tercukupi namun ini selalu menjadi isu fundamental yang mengemuka dari tahun ke tahun,” kata Director Managing General ADB Rajat M Nag. Menurut dia pertumbuhan penduduk Asia meningkat, sehingga perlu ada peningkatan produktivitas pangan khususnya beras.

11 September 2009

Lokal

Oleh Frans Obon

DALAM rentang sejarah 10 tahun Flores Pos, ada satu masa di mana motonya diubah. Dari “Nusa Bunga untuk Nusantara” diubah menjadi “Membangun Manusia Pembangun”. Moto “Membangun Manusia Pembangunan” adalah moto Surat Kabar Mingguan Dian, yang untuk sementara telah dibekukan oleh pemiliknya. Entah apa yang melatari perubahan itu tidak terlalu jelas bagi kita. Episode tersebut barangkali sesuatu yang sepele, tetapi dalam beberapa hal dia berbicara banyak mengenai dinamika internal pers. Ini barangkali sebuah Wars Within meminjam judul buku Janet E Steele yang menulis mengenai konflik internal Majalah Tempo. Buku ini ditulis dengan cara yang memikat menggunakan narrative reporting atau yang oleh beberapa kalangan disebut jurnalisme sastrawi.

31 Juli 2009

Dari Sumur Kami Sendiri

Oleh Frans Obon

DI MAUMERE para uskup Nusa Tenggara (Keuskupan Denpasar, Keuskupan Atambua, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Sumba, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Larantuka dan Keuskupan Agung Ende) membahas bersama para petani dan nelayan tentang kedaulatan pangan. Para petani dan nelayan menyeringkan pengalaman mereka mengenai kesulitan, kepahitan, keprihatinan, dan kegembiraan serta harapan mereka. Dari rekomendasi pertemuan kita tahu bahwa ada banyak kesulitan yang mengadang petani, tetapi juga ada harapan.