Tampilkan postingan dengan label gender. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gender. Tampilkan semua postingan

27 April 2010

Kartini-Kartini Modern

Oleh FRANS OBON

KITA menggelar kegiatan bermacam ragam dalam rangka memperingati Hari Kartini, yang jatuh pada 21 April. Peringatan Hari Kartini tentu bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum mengenangkan perjuangannya untuk membangkitkan kesadaran bersama bahwa perempuan bukanlah kelas kedua di dalam masyarakat. Jika ada anggapan bahwa perempuan merupakan warga kelas kedua setelah laki-laki, hal itu bukanlah sesuatu yang dilahirkan, melainkan konstruksi sosial budaya.

Raden Adjeng Kartini, anak kelima dari 11 bersaudara lahir di Jepara 11 April 1879 dan meninggal 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Pada usia 12 tahun ia masuk sekolah Europese Lagere School. Itulah sebabnya dia mahir berbahasa Belanda. Di bangku pendidikan inilah dia mendapatkan pencerdasan baru yang lahir dari kegelisahannya tentang nasib kaum perempuan pribumi. Dari surat-surat Kartini kepada teman-temanya yang dari Belanda, kita tahu bahwa dia ingin nasib kaum perempuan pribumi mencapai kemajuan setara dengan laki-laki. Dia membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa. Dari situ ia sadar bahwa nasib kaum mperempuan pribumi harus diperbaiki. Harus ada perubahan. Kedudukannya harus setara dengan kaum pria.