Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

28 September 2012

Hemat dan Menabung


Oleh FRANS OBON

BEBERAPA waktu lalu, Harian Flores Pos memuat berita tentang perbandingan persentase orang yang menabung uang di bank di sejumlah negara di Asia. Disebutkan bahwa Indonesia berada di urutan paling bawah dalam hal rendahnya menabung uang di bank. Hal itu bisa dilihat dari jumlah rekening bank. Indonesia ketinggalan dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara (Flores Pos 18 Mei 2012).

Disebutkan bahwa dari total jumlah penduduk di atas usia 15 tahun, jumlah kepemilikan rekening bank di Indonesia hanya 15,3 persen dan kredit 8,5 persen. Sementara di negara tetangga kita, Malaysia total kepemilikan rekening 66,2 persen, Thailand sekitar 72,2 persen, Singapura 98,2 persen, China 63, 8 persen, dan India35, 2 persen. 

15 April 2010

Beban Pasar Tradisional

Oleh FRANS OBON |

IBU-IBU penjual ikan di Lembata mengadu ke DPRD Lembata. Menurut pengakuan mereka, polisi pamong praja melakukan tindakan kekerasan dan bersikap tidak manusiawi terhadap mereka. Polisi pamong praja melakukan aksi penertiban dengan melarang para penjual ikan ini untuk menjual dari rumah ke rumah dan dari lorong ke lorong (Flores Pos edisi 14 Apil 2010).

Para penjual ikan ini juga mengatakan tindakan kekerasan dan tidak manusiawi itu dipicu karena keterlibatan mereka dalam demonstrasi yang digelar aliansi kebenaran dan keadilan anti kekerasan (Aldiras). Namun kita mengesampingkan kemungkinan dan dugaan bahwa keterlibatan ibu-ibu penjual ikan dalam demonstrasi Aldiras menjadi pemicu aksi penertiban polisi pamong praja.

07 Maret 2010

Menghindari Efek Domino


Gerakan Koperasi Kredit menghindari efek domino untuk menjamin keberlanjutannya sebagai lembaga keuangan di pedesaan. Berbagai pembenahan dilakukan mulai dari perangkat keras hingga perangkat lunak.

Oleh FRANS OBON

PUSAT Koperasi Kredit (Puskopdit) Bekatigade Ende, Ngada dan Nagekeo mengumpulkan para pengurus, pengawas, dan manajemen koperasi kredit (Kopdit) di Kemah Tabor, Mataloko, Kabupaten Ngada. Selama dua hari, Sabtu dan Minggu pertengahan Februari lalu sekitar seratus lima puluhan orang menghadiri rapat anggota tahunan (RAT).

20 Juli 2009

Efek Getar

Oleh Frans Obon

DI BAWAH rezim Orde Baru, semua serba tunggal. Semuanya diarahkan untuk menopang kepentingan kekuasaan Orde Baru. Partai politik dikendalikan dan disederhanakan. Organisasi massa diarahkan. Tidak terkecuali lembaga ekonomi. Kalau pemerintah bicara koperasi, itu sama artinya pemerintah sedang bicara koperasi unit desa (KUD) – yang diplesetkan jadi ketua untung duluan. Di luar itu, dipandang remeh. Itulah yang dialami oleh gerakan koperasi kredit (credit union) di masa lalu.

Kita di Flores terbilang sedikit beruntung. Mungkin karena jauh dari pusat kekuasaan di Jakarta dan oleh rasa hormat pemerintah daerah terhadap Gereja Katolik, tidak ada hambatan berarti mengenai perkembangan gerakan koperasi kredit. Dicurigai, ya. Tapi dihambat tampaknya tidak.

16 Juni 2008

Koperasi Harus Makin Kompetitif

Oleh Frans Obon
Koperasi kredit (Kopdit) Sangosay di Kabupaten Ngada lahir dari keprihatinan ekonomi para guru-guru di bawah lingkup Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ngada (Yasukda). Inilah bentuk kerja sama yang harmonis antara awam Katolik (para guru) dan para imam (pengurus Yasukda), yang punya satu tujuan bersama: merancang pastoral yang membebaskan umat dari belenggu kemiskinan ekonomi.

Prakarsa ini dimulai 6 Juni 1977 dengan membentuk Kelompok Studi Tabungan (KST), beranggotakan 21 orang dan modal awal Rp35.000. Biji sesawi yang ditanam di tanah Ngada yang subur itu telah berkembang pesat dan telah bertumbuh menjadi sebuah lembaga keuangan yang terpercaya. Sekarang data per Desember 2007, kekayaan Kopdit Sangosay Rp42,1 miliar lebih, saham Rp21,5 miliar lebih dan kredit yang beredar di 5.838 orang anggota sebesar Rp37,9 miliar lebih.
Man behind the gun, itulah faktor yang menentukan keberhasilan ini. Salah satunya adalah manajer Kopdit Sangosay Lodofikus Lenga. Tangan dingin pria yang mengenyam pendidikan di Fakulutas Keguruan jurusan Pendidikan Dunia Usaha di Universitas Cendana (Undana) Kupang ini cukup memberikan andil membesarkan Sangosay.
Dia mengatakan, tantangan terbesar gerakan koperasi kredit adalah memenangkan persaingan. Karena sekarang ini, katanya, banyak sekali lembaga keuangan lainnya yang menawarkan produk yang menarik. Tantangan ini akan menuntut koperasi makin kompetitif. Sampai sekarang, setidaknya koperasi kredit telah memenangkan sebagian dari kompetisi ini.
Diapun bertekad untuk memenangkan persaingan ini. Syaratnya adalah memperkuat kapasitas manajemen dan meningkatkan sumber daya manusia baik jajaran pengurus maupun anggota. Di tingkat pengurus, skill manajerial perlu terus diperbarui dan ditingkatkan baik melalui pendidikan dan latihan maupun melalui studi banding dengan koperasi yang lebih maju.
Pengurus perlu piawai menciptakan produk yang makin menarik dan punya daya saing serta merancang strategi pendekatan pelayanan, yang memudahkan anggota mengakses sehingga terciptanya pelayanan yang efisien dan efektif.
Di kalangan anggota, pendidikan memainkan peran sentral. Pendidikan yang terus menerus akan mencerdaskan anggota dan memprekuat pilihan mereka menabung uang di koperasi, serta mencerdaskan mereka agar tidak begitu mudah tertarik dengan produk lembaga keuangan lainnya. Tentu saja ini berkaitan dengan faktor kepercayaan dan kepercayaan muncul dari pengelolaan yang profesional, efisien, dan efektif yang dilakukan jajaran pengurus.
Untuk menunjang semua ini, katanya, Kopdit Sangosay merasa perlu melakukan pembaruan teknologi seperti menggunakan sistem komputerisasi pengelolaan keuangan. Ke depan koperasi ini akan menggunakan informasi teknologi, agar anggota memiliki akses terbuka terhadap pengelolaan koperasi.
Lodo, begitu biasa ia disapa, tidak takut dengan momok yang sering menghantui koperasi: kredit macet. Ayah dari Inda Lenga, Icha Lenga, dan Alin Lenga ini amat percaya bahwa pelayanan dan pendekatan pelayanan adalah kunci utama menekan kredit macet. Karena itu jajaran pengurus membuka pos dan tempat-tempat pelayanan. Sampai sekarang kredit macet di Kopdit Sangosay terbilang kecil. “Kami menerapkan pendekatan kelompok, sehingga memudahkan monitoring,” katanya.
Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Ngada, yang menjadi anggota koperasi masih terbilang kecil. Potensi ini juga menjadi peluang bagi koperasi. Karena itu Lodo mengatakan, pihaknya akan menggencarkan promosi baik melalui media elektronik maupun media cetak, melakukan inovasi teknologi, dan membuka akses pelayanan yang lebih luas.
Mengelola koperasi, ia memegang prinsip: jujur, tanggung jawab, dan transparan, dan demokratis. “Inilah prinsip dasar saya mengelola koperasi,” katanya, Rabu (23/1). Prinsip ini bersumber dari moto hidupnya “Bekerja sepenuh hati, sebuah panggilan hidup”. Dia pun memberikan dirinya untuk koperasi. Prinsip dan moto hidupnya selalu mengingatkan dia untuk menjaga kepercayaan anggota.

Flores Pos | Feature | People | 25 Januari 2008 |

18 November 2007

Bangun Ekonomi Lintas Batas

Oleh FRANS OBON

Pertemuan tahunan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) pada tanggal 6-16 November 2006 di Jakarta menekankan kembali pentingnya umat Katolik membangun solidaritas lintas agama untuk membangun kehidupan sosial ekonomi. Para uskup meminta umat Katolik agar dalam membangun kebaikan dan kesejahteraan bersama tidak hanya eksklusif di kalangan sendiri, melainkan juga menjangkau lebih luas ke luar komunitas Katolik. Komitmen demikian dilihat sebagai cara baru menggereja di Indonesia.

Selain itu para uskup juga mendorong agar pembangunan sosial ekonomi tidak saja memberikan kesejahteraan secara lahiriah, tetapi keseluruhan proses pembangunan itu harus bisa menyadarkan masyarakat akan situasi ekonomi mereka dan harus bisa membangun harga diri dan rasa percaya diri.
Ajakan ini menjadi sangat penting bagi kita di sini di mana Katolik menjadi mayoritas. Kita akui bahwa sudah banyak usaha yang dilakukan untuk membangun perekonomian masyarakat lintas batas.
Tetapi harus pula diakui bahwa usaha-usaha bersama ke arah ini masih jauh dari harapan. Masih terdapat begitu banyak karya yang bisa menjadi medan dialog dan saling belajar di antara kita. Karena sesungguhnya dalam kebersamaan lintas batas agama ini, kita akan saling memperkaya satu sama lain. Kita akan menjadi lebih kaya dalam perspektif melihat masalah.
Kita bersyukur bahwa arah dasar pastoral di hampir tiap keuskupan maupun pada setiap kongregasi, dialog karya telah menjadi prioritas utama. Ini berarti Gereja Lokal telah merespon dan membangun komitmen untuk mengatasi masalah kemiskinan dalam kerja sama yang erat tanpa membeda-bedakan agama.
Kita memang mengakui bahwa dalam menilai dan memandang sesuatu, kita memiliki perspektif yang berbeda. Kita memiliki kerangka acuan yang berbeda. Kita memiliki nilai dan pandangan hidup yang berbeda. Oleh sebab itu kerja sama yang erat untuk mengentas kemiskinan sesungguhnya dapat diperkaya seandainya setiap pemeluk agama bersikap inklusif. Menerima perbedaan sebagai kekayaan.
Untuk sampai pada tingkat ini, kita harus mengubah mindset kita, membongkar semua prasangka-prasangka. Tentu saja hal ini menuntut sebuah sikap yang jujur dan tulus. Seandainya setiap orang bekerja dengan tulus dan jujur, niscaya kita dapat bekerja sama. Di sini setiap orang, dalam semangat persaudaraan, mengesampingkan perbedaan yang ada oleh tujuan yang lebih universal yakni hidup yang layak secara manusiawi.


05 Oktober 2007

Babak Baru Tambang Lembata

Oleh: FRANS OBON

Selama ini terjadi pro dan kontra mengenai usaha pertambangan emas dan tembaga di Lembata. Masyarakat lokal yang daerahnya akan dijadikan kawasan pertambangan menolak wilayah mereka dijadikan daerah pertambangan yang diusahakan Merukh Enterprise bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Lembata.

Berbagai demonstrasi digelar baik di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata maupun di Jakarta. Intinya masyarakat menolak pertambangan. “Sejengkal pun kami tidak akan menyerahkan tanah untuk pertambangan,” kata masyarakat.

Masyarakat lokal sudah menggelar upacara adat, memotong ayam sebagai sumpah bahwa mereka tidak akan menyerahkan tanah mereka untuk dijadikan kawasan pertambangan. Meski dijanjikan berbagai fasilitas dan kemudahan oleh Merukh Enterprises seperti rumah, fasilitas kesehatan dan sekolah, masyarakat lokal tetap menolak.

Serahkan Tanah
Ada perkembangan baru. Sekelompok orang yang mengaku pemangku hak ulayat menyerahkan twilayah yang mau dijadikan areal tambang kepada pemerintah. Selasa 2 Oktober 2007, Abdulah Demon menyerahkan tanah kepada Bupati Lembata, Andreas Duli Manuk.

Acara serah terima itu berlangsung di ruang rapat Bupati Lembata. Hadir menyaksikan Wakil Bupati (Wabup) Lembata, Andreas Nula Liliweri, Sekretaris Daerah (Sekda) Lembata, Aloysius da Silva, Asisten I, Stanislaus Nunang, Asisten II, Lukas Witak Lipataman, para Kepala Bagian (Kabag) di Lingkup Setda Lembata, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lembata, Alex Seru Lazar. Masyarakat didampingi Camat Buyasuri, Mochtar Sarabiti.

Tanggapan Bupati
Bupati Manuk berterima kasi. Ia bilang, rencana tambang mendapat komentar di sana-sini. Selain masyarakat, juga terakhir masuk juga orang yang punya pengetahuan. Banyak orang yang dengar tentang program tambang, tapi, menurut Bupati, tidak mendalami dan tidak menjiwai.

Serah terima itu akan diinformasikan kepada investor agar bisa mulai lakukan kegiatan di tanah yang sudah diserahterimakan. “Makin cepat realisasi hal-hal yang sudah jelas, lebih baik. Bisa kurangi konflik.”

Abdulah Demon mengatakan penyerahan itu berdasarkan kerelaan dan kepedulian terhadap pembangunan di Lembata. “Tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun.”
Luas ulayat Walupang bergerak antara pebatasan Desa Bean, Benihading II dan perbatasan Desa Mampir.

Kelompok masyarakat lainnya menilai penyerahan ini ilegal. Antonius S. Liliwana di kediamannya di Lewoleba, Kamis (4/10) mengatakan ini penyerahan ilegal. Anton Liliwana adalah anak sulung Oktavianus Oro Leu, penjaga rumah adat di Walupang. Di Walupang, kata dia, ada lima suku yakni Suku Liliwana, Liliweri, Doluhalang, Belukobi dan Bareng Weheq. Tiap suku punya tugasSuku Liliwana sebagai sulung menjaga Lewo (jaga kampung), Liliweri jaga duli menjaga tanah di luar kampung (kebun). Doluhalang bertugas sebagai molan (dukun) yang membuat seremonial adat. Belukobi dan suku Bareng Weheq menjaga keamanan (tentara).

Suku Liliweri
Dia mengatakan, Hasan Abu dan Dullah Demong masuk dalam suku Liliweri. Dalam masalah tambang empat suku yakni suku Liliwana, Doluhalang, Belukobi dan Bareng Weheq menolak tambang dan tidak menyerahkan sedikitpun tanah untuk kepentingan tambang.

Sementara itu di suku Liliweri hanya Abdullah Demong dan Hasan Abu termasuk Junus Demong yang setuju dengan tambang. Tiga orang ini juga yang ikut studi banding tentang tambang di Minahasa dan Sumbawa Barat.

Pemerintah Kabupaten Lembata membiayai studi banding tambang ini anggota DPRD dan kelompok masyarakat lainnya. “Kami tidak pernah tahu kalau ada penyerahan tanah ulayat itu. Penyerahan tanah oleh Dullah Demong dan Hasan Abu tidak pada tempatnya dan bagi saya penyerahan tanah itu ilegal,” kata Liliwana.

Kuasa
Ia menjelaskan tampaknya pemerintah Kabupaten Lembata masih bersikeras untuk melakukan penambangan emas dan tembaga di Kedang dan Lebatukan. Sementara rakyat terus menolak.

Menuru dia, pemerintah dengan kuasanya dan uang banyak tidak menggubris suara rakyat. Rakyat yang lemah dan tidak punya apa-apa hanya mengandalkan kuasa dari Tuhan dan leluhur. “Kami dalam waktu dekat ini akan melakukan seremonial adat. Rakyat tidak punya apa-apa, kami melawan mereka dengan seremoni adat”.

Sandiwara
Ketua Forum Komuni Tambang Lembata yang juga direktur Lembata Center Philipus Bediona mengatakan penyerahan tanah yang dilakukan Abdullah Demong dan Hasan Abu kepada pemerintah Kabupaten Lembata adalah sandiwara.

Menurut dia, pemegang hak ulayat tertinggi di Waqlupang adalah Oktavianus Oro Leu, yang anak sulungnya Anton S. Liliwana. “Kalau bupati terima penyerahan tanah ulayat dari Dullah Demong yang saya bilang tadi sandiwara, tidak lucu lagi”

Bediona mengatakan tindakan bupati Lembata mencerminkan kekerasan hati. Ia mengatakan Bupati Manuk tahu kalau rakyat dalam puncak kemarahan akibat dikeluarkan surat ijin prinsip dan empat surat ijin lokasi untuk tambang.Jangan

Tergesa
Anggota DPRD Lembata, Yoseph Suban Amuntoda mengharapakan pemerintah jangan tergesa-gesa dengan penyerahan tanah untuk lokasi tambang ini. Ia mengatakan pemerintah Kabupaten Lembata harus belajar dari pengalaman selama ini di mana tanah yang sudah diserahkan kepada pemerintah diambil kembali oleh keluarga atau orang lain yang punya hak atas tanah tersebut.

*Laporan Flores Pos

24 September 2007

Nasib Petani Jambu Mete

Oleh: FRANS OBON

Sebanyak 50 hektare jambu mete di Desa Maubasa, Kecamatan Ndori Kabupaten Ende terancam gagal panen akibat hujan turun pada saat mete lagi berbunga. Kasus yang sama terjadi di beberapa desa tetangga.

Sesungguhnya hal serupa terjadi hampir di seluruh Flores. Di Manggarai juga sama. Masyarakat di Kecamatan Cibal di bagian utara juga mengalami nasib serupa. Jambu mete hampir pasti mengalami gagal panen.

Ini menunjukkan bahwa nasib petani kita dalam enam bulan ke depan amat rentan dengan kelaparan. Karena mereka tidak memiliki lagi dana untuk membiayai kebutuhan setiap hari. Hal ini mengakibatkan para petani rawan daya belinya. Jika hal ini dibarengi dengan gagal panen untuk komoditas lainnya, maka menghadapi musim tanam tahun ini para petani akan mengalami rawan daya beli. Ibarat lingkaran setan, nasib petani akan terus tertimpa tangga kemiskinan.

Bukan itu saja. Pendapatan pemerintah dari sektor jambu mete juga akan menurun. Kontribusi jambu mete dan kakao terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2006 sebesar Rp377,15 miliar. Diperkirakan ke depan kontribusi kedua komoditas ini akan terus merangkak naik. Hal ini terjadi karena harga kedua komoditas ini di pasar internasional relatif stabil dibandingkan komoditas lainnya. Apalagi kedua komoditas ini memiliki produk derifatifnya cukup banyak, sehingga permintaan pasar tidak akan pernah berhenti.

Amat menggembirakan kita bahwa pada tahun 2006 produksi jambu mete kita sebesar 33. 161 ton. Berarti terjadi peningkatan produksi dari tahun sebelumnya sebesar 32.152 ton. Sedangkan komoditas kakao pada tahun yang sama 14.305 ton dibanding tahun sebelumnya 14.970 ton. Luas lahan jambu mete pun, NTT menyumbang 20 persen atau sekitar 112.162 hektare dari total areal 581.641 hektare.

Dari sini saja, kita bisa melihat bahwa kedua komoditas ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi peningkatan pendapatan petani. Keuntungan tentu saja tidak bagi petani semata, namun pemerintah juga mendapatkan uang bagi kas daerah melalui retribusi dan pajak.

Dalam konteks Nusa Tenggara Timur, Flores dan Lembata komoditas mete memberikan kontribusi yang cukup besar. Karena di Flores dan Lembata terdapat sentra-sentra produksi jambu mete yang berkualitas, seperti di Ngada dan Flores Timur. Termasuk di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat. Beberapa sentra jambu mete di Flores telah mengantongi sertifikat mete organik (IMO), dan sertifikat ini dapat dijadikan semacam “tiket” bahwa produksi mete kita dapat bersaing di pasar internasional dan memenuhi standar mutu yang dituntut konsumen di tingkat internasional.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana pemerintah mengantisipasi keadaan ini. Jambu mete yang gagal berbuah itu akan menurunkan produksi mete dan berakibat pula pada menurunnya pendapatan petani. Ke depan adalah bagaimana mengantisipasi situasi ini sehingga tidak terjadi rawan pangan dan daya beli masyarakat menurun.

03 September 2007

Betapa Terlelapnya Flores

Oleh: FRANS OBON

PEKAN ketiga Juni lalu, saya mengikuti kursus jurnalistik sastrawi yang digelar Yayasan Pantau Jakarta, yang diketuai Andreas Harsono. Orang ini amat peduli dengan perkembangan media dan memiliki minat yang besar mengembangkan media lokal, serta meningkatkan mutu jurnalisme di Indonesia. Yayasan Pantau memfokuskan salah satu kegiatannya pada kursus jurnalistik dengan genre sastrawi, sehingga kursus ini disebut kursus jurnalisme sastrawi.

Minggu pertama kursus diampu Janet E. Steele dari The George Washington University. Janet menulis Wars Within, sebuah buku yang memikat mengenai Majalah Tempo. Ini menjadi salah satu contoh karya berupa buku yang menggunakan narrative reporting yang memikat dan mengalir.

Minggu kedua Andreas Harsono tidak saja membahas teknik menulis dengan metode jurnalisme sastrawi, sebuah genre yang belum begitu populer di Indonesia, melainkan juga membahas nasionalisme. Dia membagikan kepada 16 peserta kursus karya-karya peneliti sosial yang membahas konflik komunal di Indonesia. Konflik di Maluku Utara, yang dipicu pemekaran wilayah dan perang yang tak dikenal (unknown war) di Kalimantan di mana etnik Cina menjadi korban.

Selama dua minggu itu, saya menghirup udara Jakarta. Di tengah hilir mudik kendaraan dan lalulalang orang, tiba-tiba saya merasa sendirian. Meski tidak teralienasi, meminjam istilah Karl Marx, tetapi mungkin lebih tepat terlempar ke dalam dunia yang saya belum terlalu kenal.

Pian, seorang satpam berseragam loreng kayak tentara mendekat.
“Dari mana?”
“Flores,” kataku.
“Kerja di mana?”
“Di Flores”
“Buat apa di sini?”
“Ada latihan kewartawanan”.

Dia membangun sikap ramah. Tapi saya tahu, dia hanya perlu tahu penghuni “rumah” yang baru itu. Malam pertama di Jakarta, saya menghabiskan sekitar lima jam untuk melihat denyut Jakarta di malam hari. Sebagai orang baru saya menanggapi setiap keramahan dengan sikap awas. Kriminalitas yang tinggi membuat saya tidak mempercayai setiap keramahan. Tiga hari kemudian ketika saya tanya apakah ia bekas tentara atau tentara yang sedang aktif, dia bilang tidak. Empat satpam di rumah kos di Rawa Blong, Jakarta Timur itu menggunakan celana loreng tentara hanyalah trik agar orang takut.

Hampir tiap malam saya duduk di samping gerobak nasi goreng Mas Yudi dari Pekalongan, Jawa Tengah. Dia merantau ke Jakarta sejak usia 25 tahun. Sekarang usianya 45 tahun. Saya menangkap semangatnya dari peluh keringat dan gerakan tangannya yang lincah.

Semula di Jakarta dia bekerja di sebuah usaha konfeksi. Namun dia tidak tahu nama konfeksi yang mempekerjakan 20-30 orang itu. Dia bekerja selama 15 tahun karena usaha konfeksi ini gulung tikar akibat krisis ekonomi menerpa Indonesia 1998.

Dia kelimpungan ketika usaha konfeksi ini ditutup sebab ia hanya sampai kelas tiga sekolah dasar. Selama bekerja di konfeksi, ia mendapat uang 200 ribu rupiah seminggu dari hasil kerja borongan.

Namun hidup terus berputar. Yudi harus menghidupi Sutinah, istrinya yang ia nikahi 14 tahun lalu dan dua anaknya Jamal dan Mukhron. Ia tidak mengenal ayahnya Yatih yang meninggalkannya semasih dia usia 6 bulan. Bahkan tanggal lahir pun ia tidak tahu lagi.

Enam bulan lamanya ia menjual nasi goreng milik kenalannya. Bulan ketujuh, ia membuka usaha sendiri. Dengan uang 200 ribu rupiah, ia membuat gerobak nasi goreng berukuran panjangnya 1,5 dan lebar satu meter. Dia mangkal di depan sebuah rumah kos berlantai tiga di Jln Palmerah Barat No. 6. Sepuluh meter ke arah kanannya ada warung Barokah masakan Padang. Di depan jalan dua arah berhadapan dengan usahanya ada warung kecil lainnya yang menjual nasi uduk dan nasi ikan. Usahanya hanya nasi goreng dan mi goreng dengan bumbu ala kadarnya. Hanya bawang merah, bawang putih dan kemiri. Dia berjualan mulai pukul 18.30 hingga pukul 02.00. Semalam dia mendapat uang 140 ribu rupiah. Dikurangi ongkos membeli bahan baku, ia mendapat 50 ribu rupiah. Berarti sebulan dia mendapat 1,5 juta. Ini kalau lagi sepi. Kalau lagi ramai, dia bisa mendapat 2 juta sebulan.

Di samping gerobak nasi goreng dan mi goreng itu saya duduk menyaksikan orang datang silih berganti memesan. Sesekali saya menanyai harapan akan masa depannya dan tentang hidup di Jakarta. Saya berusaha menangkap makna dari setiap peluh dan keringatnya. Dia tidak sedang mengajarkan saya pengertian-pengertian abstrak soal jawab dari mana manusia, ke mana manusia, siapa manusia, dan untuk apa manusia. Namun dia memberikan saya pelajaran bahwa hidup bukanlah deretan definisi. Hidup akan terus mengalir seperti air dan setiap tetes sangat berharga di tengah kedahagaan hidup.

Saya mulai bosan dengan nasi goreng dan mi goreng. Rabu malam pekan pertama saya pindah ke warung di seberang jalan dua arah itu, berdinding kain dan bergambar ayam jago, bebek, dan ikan lele. Di situ ada nasi pecel ikan lele dan ikan goreng. Aku ambil dari 10 tempat duduk kursi plastik tak berlengan yang melingkari sebuah meja panjang.

Aisyah, pemilik warung menyodorkan nasi putih dan ikan goreng. Sepiring tujuh ribuan. Aisyah juga tak tamat sekolah dasar. Semalam dia mendapatkan uang 200 ribuan. “Bukan main,” kata saya dalam hati.

Saya melihat matanya sedang menyelidikku. Meski dalam hatinya dia bersyukur satu lagi pelanggan “asing” datang. Saya bersikap sopan. Tiga pengamen datang. Main gitar, nyanyi tidak jelas dan saya tidak mau diganggu. Kuberi seribuan. Mereka pergi. “Cuka minyak orang mau makan diganggu”.

Kamis malam saya mau makan daging kambing. Lima puluh meter dari kos ada warung milik orang Jakarta. Sekali makan tigas belas ribu. Enak bukan main selagi panas. Kalau lagi sepi, semalam pemiliknya bisa mendapat tiga ratus ribu. Kalau lagi ramai, bisa 700 ribu. Kalau dikurangi ongkos, dia mengantongi keuntungan 400 ribu. Sebelum krisis, semalam dia bisa mendapat 3-4 juta.

Orang ini namanya Badillah, sarjana hukum dari Universitas Indonesia tahun 1996. Dia sempat bekerja di sebuah lembaga dengan gaji 2 juta rupiah sebulan. “Saya putuskan berhenti karena merasa terikat. Datang jam 07.00 pulang jam 17.00. Belum lagi diomelin”.

Badillah belum menikah dan berencana baru menikah tahun depan. Saat ini dia lagi kumpulkan uang mengongkosi adiknya kuliah. Ayahnya beristri empat dan punya anak 13 orang. Badillah anak istri kedua dengan lima bersaudara, dua laki dan tiga perempuan. Seorang adiknya sedang kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Dia berangkat dari rumah pkl. 15.00 dan pulang pkul 24.00. Siang hari dia bereskan segala sesuatu yang perlu untuk jual pada malam hari. Kalau daging kambing itu belum terjual habis, dia simpan di freezer. “Bisa bertahan 3-4 hari tanpa bau”.

“Saya tetap jaga mutu. Banyak orang kalau sudah pernah datang ke sini, akan datang lagi,” katanya setengah berpromosi.

“Di sini seekor kambing 800 ribu”.

Saya mengangguk.

“Ole!” kata saya dalam hati. Di Flores seekor kambing dijual 200 ribu.

DUA minggu saya berada di sebuah sudut kota Jakarta. Tidak ada lagi rasa terlempar. Jakarta pelan-pelan menjadi sebuah “sekolah baru” tentang semangat wirausaha, bagaimana menciptakan peluang, bagaimana momentum memicu momentum lainnya.

Tiba-tiba saya terkenang Flores. Di Flores, hidup adalah perayaan. Dari lahir hingga mati. Tidak ada fase hidup yang tidak dirayakan. Orang hidup penuh dengan pesta. Waktu lahir pesta, permandian (menjadi Katolik) pesta, sambut baru pesta, 40 hari setelah kematian pesta. Menikah pesta. Belum lagi belis puluhan bahkan ratusan juta. Orang Flores merasa nikmat dengan semua ini.

Siang hari orang Flores tidur lelap (siesta). Malam hari di Flores adalah malam yang sunyi. Di Jakarta malam adalah pergulatan dan pengolahan hidup. Orang berjuang untuk melipatgandakan talenta yang dimiliki. Jakarta tidak hanya memerlukan ijazah, namun semangat wirausaha yang mengandalkan hidup hemat dan kerja keras. Yudi, Aisyah dan Badillah adalah contoh bagaimana semangat dan kerja keras bisa menghidupi orang, bukan ijazah.

Betapa Flores terlelap dalam tidurnya yang panjang dan mungkin akan terus terlelap dalam lomba kehidupan tanpa henti ini. Flores mungkin akan terus terseret oleh gurita korupsi, kolusi, dan nepotisme dan cara hidup boros. Mungkin pula akan terus terseret oleh mentalitas nanti orang bilang apa, terseret oleh struktur sosial yang memakan ongkos. Flores mungkin terlelap dalam banyak hal.*