Tampilkan postingan dengan label dialog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dialog. Tampilkan semua postingan

15 Mei 2009

Tak Ada Klaim Tunggal

Oleh Frans Obon

Peraih Nobel dalam bidang ekonomi tahun 1998 Amartya Sen menulis sebuah opini: A World Not Neatly Divided (Sebuah Dunia yang Tak Terbagi dengan Rapi) (New York Times, 23 November 2001). Dunia memang tidak pernah dibagi secara ketat. Dia bilang, banyak orang keliru mengerti tesis Samuel Huntington tentang perbenturan peradaban (clash civilisation). Kelemahan dasar dari teori Huntington adalah penggunaan kategorisasi tertentu dalam menilai sebuah masyarakat. Kategori sivilisasi terkesan artifisial dan tidak konsisten sebab ada banyak cara dalam melihat masyarakat (dari perspektif politik, bahasa, kelas, afiliasi, dan lain-lain).

18 November 2007

Fenomena Uskup Sensi, Awal yang Baik

Oleh FRANS OBON

Kerja sama antara umat Katolik dan Islam di wilayah ini sudah berlangsung lama. Di lapisan akar rumput, terdapat kerja sama yang baik. Ini terjadi tidak saja karena adanya keinginan yang kuat untuk membangun kemaslahatan atau kebaikan bersama, melainkan jauh lebih dalam yakni berakar di dalam budaya lokal itu sendiri. Dalam masyarakat lokal, ada medium di mana semua orang tanpa sekat agama bisa melebur dalam sebuah kegiatan budaya bersama. Bahkan dalam budaya rumah adat, akar kultur itu jauh lebih dalam.

Tetapi akar kultur seperti ini dan komitmen-komitmen yang telah dibangun untuk terciptanya kemaslahatan bersama lintas agama seringkali dilindas dan digilas oleh situasi politik global dan politik nasional. Padahal kita semua tahu bahwa yang abadi dalam politik adalah kepentingan. Kepentingan-kepentingan politik sempit telah mematikan akar-akar kultural bersama ini ke dalam sekat-sekat yang memisahkan.
Penampilan Uskup Maumere Mgr Vincentius Sensi Potokota di depan ribuan umat Muslim di lapangan Kota Baru Maumere, Selasa (24/10) setelah sholat ied adalah sebuah kehadiran yang fenomenal. Bahwa untuk pertama kalinya seorang pemimpin Gereja Katolik di wilayah ini mengulurkan tangannya secara terbuka di depan umat Muslim dalam sebuah perayaan besar di lapangan terbuka.
Ini sebuah proses pencitraan yang sangat strategis yang dibangun oleh umat Katolik dan Islam di wilayah ini. Penampilan Uskup Sensi di depan ribuan umat Muslim telah memberikan pencitraan yang kuat sekali kepada umat beragama bahwa tidak ada halangan mendasar yang membuat umat beragama tidak bisa membangun kerja sama demi kemaslahatan bersama.
Tetapi penampilan ini juga menjadi sebuah peluang dan tantangan bagi Gereja Katolik Maumere atau Flores umumnya. Katolik sebagai mayoritas di wilayah ini dituntut untuk memainkan peran yang lebih besar dalam memajukan persaudaraan dan kebersamaan lintas agama. Ini menuntut Gereja Katolik sebagai mayoritas untuk bekerja lebih keras lagi mempelopori usaha-usaha yang dapat meningkatkan derajat kemanusiaan, menghilangkan diskriminasi, dan memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk menghayati agamanya.
Dengan demikian dari satu sisi Gereja Katolik Flores dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada sumbangan besar dari Nusa Bunga kepada Nusantara bahwa Flores yang mayoritas Katolik tidak membuat diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas. Itu berarti Gereja Katolik makin hari makin dituntut untuk keluar dari sekat-sekat primordial sempit dan mengulurkan tangannya kepada siapa saja yang memiliki kehendak baik untuk membangun kemanusiaan lintas agama. Gereja Katolik didorong lebih keras lagi untuk terus menghargai keberagamaan tanpa jatuh pada relativisme yang menganggap semua agama sama saja.

Bentara / Flores Pos / 27 Oktober 2006

26 Juli 2007

Seminarians 'Dialogue' With Protestant Families Through New Ecumenical Initiative

Oleh FRANS OBON

ENDE, Indonesia (UCAN) -- Thirty-eight seminarians from Divine Word-run St. Paul Major Seminary in Ledalero promoted ecumenical unity on the predominantly Catholic island of Flores, by participating in a unique initiative.

During a five-day live-in program from Jan. 25 to Jan. 29, each seminarian stayed with a family from Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), an evangelical church in Ende town, 1,630 kilometers east of Jakarta. Seminarians lived, prayed and worked with the families.
The seminarians' presence "actually is a form of dialogue. It touches families as basic communities," Divine Word Father Gregorius Sabon told the seminarians and families at a Jan. 28 prayer service.
Through the live-in program, he said, seminarians experienced the reality of Protestant family life. This "will enrich and strengthen the seminarians' spiritual life, so that they will keep serving as the servants of God," said Father Sabon, who coordinated the seminarians.
Kristianto Naben, a seminarian, agreed. He followed the rhythm of life of a Protestant family and joined their prayer service, he said. In the prayer service, each person shared experiences or problems they are facing. Then they tried to find solutions. He was asked to present a reflection about a passage from Scripture.
"It is interesting to know how Protestant families read the Bible and how they reflect on their experiences," he continued. "It will broaden my thinking about the Protestant Church," he said.
Amandus Klau, another seminarian, told UCA News that the Protestant families' willingness to welcome the seminarians was like opening "the door of a library."
He said, "I learned many useful things after going through their concrete life with them," he admitted. The thing that impressed him most, he said, was "their practice of reading and hearing the Word of God together."
Klau, who coordinates the seminary students, explained that the seminary wanted to develop an ecumenical program outside the seminary complex.
"This live-in program is a continuous ecumenical union. It is also a chance to study," he said. Seminarians, "will become pioneers of ecumenical movement in our future service area." He hoped the live-in program will continue, creating a true and continuous union between Catholic and Protestant Churches.
Meanwhile, Yoseph Reywutty Tarully, chairman of GMIT Church on Flores island, told UCA News that the new initiative could strengthen Christian unity. This first such program showed progress in the ecumenical life of the Catholic and Protestant Churches in the area, he continued.
Tarully, a post-graduate student of Divine Word-run Catholic School of Philosophy in Ledalero, himself is part of a student-exchange program between the school and the Protestant school of theology in Kupang, west Timor.
"I hope the program will echo the Good News to all faithful on Flores island, so that the world will know that we are united in faith, hope and love," he said.
The program also included a seminar on HIV/AIDS, which was attended by young Catholics from three parishes served by Ende archdiocese as well as by young people from GMIT communities.
According to official data, Ende archdiocese has 411,334 Catholics, who make up more than 90 percent of the territory's 449,057 people. They are served by 287 priests, 513 Religious and 567 catechists in 52 parishes.


Berita ini dimuat di Kantor Berita Ucan, February 16, 2007
IS01947.1432 February 16, 2007 50 EM-lines (531 words)