Tampilkan postingan dengan label Gereja Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja Katolik. Tampilkan semua postingan

27 Agustus 2010

Orang-Orang Muda Ada dalam Hati Uskup

Salah satu masalah yang muncul dalam Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende tanggal 6-11 Juli 2010 adalah problem kaum muda. Pendampingan terhadap kaum muda masih dirasa kurang.



Oleh FRANS OBON

“Orang-orang muda ada dalam hati uskup. Saya merasakan denyut nadi orang-orang muda,” kata Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota pada Sabtu (10/7/2010) usai mendengar rangkuman akhir dari seluruh diskusi dan pembahasan selama Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende.

Muspas digelar lima tahun sekali dan merupakan pertemuan akbar yang dihadiri utusan dari komunitas-komunitas basis, komisi-komisi keuskupan, organisasi-organisasi gerejani, para pastor, dan biarawan dan biarwati, pemerintah dan anggota legislatif untuk merencanakan strategi pastoral keuskupan lima tahun ke depan.

Uskup Telah Bicara

Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng mengunjungi lokasi pertambangan dan mengadakan misa dengan umat Katolik di lingkar tambang. Dia minta masyarakat tidak tergoda dengan tambang karena akan merusak lingkungan. Masalah tambang adalah masalah seluruh masyarakat Manggarai.



Oleh Frans Obon

Bagi rakyat Manggarai, terutama umat Katolik di Keuskupan Ruteng yang meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur, sudah jelas kiranya sikap Gereja Lokal Keuskupan Ruteng mengenai masalah tambang. Secara eksplisit, sebagaimana diberitakan media ini (Flores Pos, edisi 23 Juli 2010), Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng mengajak umat Katolik untuk sesuara dan sehati menolak pertambangan di seluruh wilayah keuskupan.

Kunjungan Uskup Hubert ke lokasi tambang mangan di Soga dan penanaman pohon perdamaian di sekitar lokasi tersebut, juga kata-kata terucap di dalam kotbah ekaristi, menunjukkan bahwa betapa keuskupan Ruteng selalu berdiri di sisi orang-orang yang terimpit dan terancam nasibnya oleh investasi yang merusak alam dan yang pada akhirnya akan menyingkirkan masyarakat dari tanahnya sendiri.

01 September 2009

Muspas yang Menggigit

Hampir selama 22 tahun strategi pastoral Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende dirancang dalam Musyawarah Pastoral (Muspas).


Oleh Frans Obon

SUDAH 22 tahun lamanya, sejak 1987 Keuskupan Agung Ende di Flores tengah merancang strategi pastoralnya dalam pertemuan akbar yang disebut Musyawarah Pastoral (Muspas) yang tiap kali dihadiri hampir tiga ratusan lebih umat Katolik, berlangsung secara bergilir di tiga kevikepan: Ende, Bajawa dan Maumere. Dalam kurun waktu itu telah dilangsungkan lima kali Musyawarah Pastoral. Dengan terbentuknya Keuskupan Maumere, maka tinggal dua kevikepan: Ende dan Bajawa, meski secara administratif pemerintahan Kabupaten Ngada telah dimekarkan menjadi dua kabupaten dengan terbentuknya Kabupaten Nagekeo.

19 Oktober 2008

Kepedulian Ekologis

Oleh FRANS OBON

Tanggal 11 Maret 2007, pada sebuah misa requiem bagi para korban meninggal bencana alam di Gapong, Perak, dan Gologega pada awal Maret 2007, almarhum Uskup Ruteng Mgr Eduardus Sangsun SVD mengajak umat Katolik untuk menyadari dosa kolektif agar “tidak lagi menebang hutan tetapi menanam sebanyak mungkin pohon di tanah-tanah yang kering sebagai bentuk konservasi alam sehingga tidak terjadi lagi longsoran yang memakan korban jiwa”.

Uskup prihatin dengan jatuhnya korban jiwa dan mengungsinya ribuan orang mencari perlindungan di Paroki Pagal, di Paroki Beamese, Paroki Reo dan Paroki Benteng Jawa. Mulai hari ini, begitu kata Uskup, umat Katolik harus menanam sebanyak mungkin pohon dan “melindungi mata air”. Uskup kala itu mengatakan, hendaknya kejadian bencana tanah longsor ini membuka mata dan membuat sadar semua orang mengenai konsekuensi hari ini dan ke depan dari tindakan merusak hutan. Kala itu juga Uskup meminta paroki-paroki dan pemerintah memberi perhatian serius pada korban karena banyak orang kehilangan tempat tinggal, harta benda, ladang, dan ternak. “Banyak orang berada dalam ketakutan sekarang. Mungkin pula mereka akan kehilangan masa depan. Ini tugas kita untuk membantu mereka”.
Lingkungan hidup adalah salah satu keprihatinan pastoral Gereja Katolik Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Selama 23 tahun masa kegembalaannya, Uskup Edu tidak henti-hentinya memberi perhatian pada masalah ini dan selalu mengajak umatnya menyelamatkan lingkungan hidup.
Ajakan ini adalah sebuah seruan moral mengenai pentingnya memelihara kehidupan (pro life) terutama generasi masa depan. Uskup ingin mengajak umat Katolik untuk membangun sikap solidaritas, ikut prihatin dengan para korban. Keprihatinan itu ditunjukkan oleh sikap menentang segala bentuk perusakan lingkungan hidup.
Setiap anggota Gereja tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, melainkan sehati dan sepikir bersama anggota yang lainnya membahas bersama mengenai langkah-langkah konkret mencegah kerusakan lingkungan hidup.
Inilah salah satu warisan yang ditinggalkan oleh Uskup Edu, sekaligus keprihatinan yang terus menerus disuarakan oleh para uskup: kepedulian ekologis.
Seharusnya ajakan moral para pemimpin Gereja Katolik ini, terutama di wilayah kita, sungguh menjadi perhatian serius pemerintahan lokal kita. Adalah oleh kewajiban moral dan iman mereka sebagai orang Katolik, sudah sepantasnya para pemimpin pemerintahan lokal berada di garda terdepan untuk memelihara lingkungan hidup. Untuk coba mencari langkah konkret mewujudnyatakan seruan moral ini dan membangun komitmen memelihara lingkungan hidup.

Flores Pos/Bentara/Lingkungan Hidup / 20 Oktober 2008